Dari konsumsi nasional sebesar 8,6 juta ton per tahun, produksi lokal hanya mampu menyuplai sekitar 1,7 juta ton. Sebagai solusi, pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif utama.
“Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG (compressed natural gas). Tapi ini masih dalam pembahasan. Saya harus finalisasi dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita dari sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ungkapnya.
Strategi Tiga Pilar Kemandirian
Menghadapi potensi krisis energi global yang berkelanjutan, Bahlil memaparkan tiga langkah strategis yang kini menjadi prioritas pemerintah:
- Optimalisasi Lifting: Menggenjot produksi minyak dan gas bumi dalam negeri.
- Diversifikasi Biodiesel: Mendorong program B50 untuk memangkas angka impor solar.
- Bioetanol: Mempercepat pengembangan bensin berbasis etanol (E20).
Baca Juga: Gempa M 7,6 di Sulawesi dan Maluku Utara, Presiden Prabowo: Prioritas Penyelamatan Warga
“Kita itu ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E untuk bensin, etanol. E20. Itu adalah bagian salah satu strategi,” pungkas Bahlil.
Melalui kombinasi pengamanan pasokan jangka pendek dan percepatan transisi energi ke bahan bakar nabati, pemerintah optimistis Indonesia mampu memutus ketergantungan energi fosil dari luar negeri secara bertahap. (*)






