Sementara Indonesia mencatatkan kemajuan, banyak negara produsen besar lainnya justru mengalami penyusutan hasil panen yang masif.
Thailand menghadapi penurunan produksi hingga 6,1 persen, sedangkan Amerika Serikat mencatat panen terendah dalam empat tahun terakhir dengan koreksi 15,2 persen.
Selain itu, Brasil dan Kamboja juga mengalami penurunan produksi masing-masing sebesar 12,9 persen dan 2,8 persen akibat berbagai kendala teknis dan iklim.
Tantangan Iklim dan Biaya Tani
FAO mengidentifikasi dua tekanan utama yang menyebabkan penurunan produksi global, yaitu ketidakpastian iklim akibat badai kering El Niño serta merosotnya margin keuntungan usaha tani.
Baca juga:Â Rekor Baru CBP! Bulog Sukses Serap 3 Juta Ton Beras Petani Per Awal Juni 2026
Lonjakan harga energi dan pupuk dunia memaksa para petani di Asia Tenggara menunda masa tanam, yang secara langsung mengurangi pasokan di lumbung dunia.
Fenomena ini menyebabkan cadangan beras dunia diperkirakan turun menjadi 213,8 juta ton pada akhir musim 2026/2027.
Kondisi tersebut berdampak pada perdagangan beras dunia yang ikut mengempis sebesar 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton.
Berbagai negara importir kini memperketat kebijakan demi memproteksi pasar domestik mereka dari gejolak pasokan.
Kementan meyakini situasi kawasan ini membuka peluang ekonomi yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, terutama untuk memperkuat posisi di pasar internasional.
Peluang Emas Ekspor Indonesia
Filipina dan Malaysia diproyeksikan akan meningkatkan volume impor beras tahun ini guna menutupi kebutuhan domestik mereka.




