“Kemudian yang sudah dibuat pekerjaan yang kerja sama oleh Kementerian Dikdasmen untuk renovasi rehabnya itu lebih kurang Rp3.084,” papar Tito Karnavian.
Untuk mendanai fase pertama pemulihan fisik ini, kas negara telah mencairkan dana jumbo dalam jumlah yang signifikan.
“Anggaran yang sudah dikeluarkan Kementerian Dikdasmen Rp2 triliun yang sudah dicairkan. Masih ada lagi kira-kira Rp1,8 sampai Rp1,9 triliun,” ungkap Tito.
Sisa Seribu Sekolah Masuk Perencanaan Lanjutan dan Opsi Relokasi
Tito menepis kekhawatiran publik mengenai nasib lebih dari seribu gedung sekolah yang saat ini belum tersentuh perbaikan.
Satgas memastikan sisa sekolah tersebut tidak diabaikan, melainkan sedang masuk dalam tahap pematangan desain teknis dan koordinasi anggaran termin berikutnya.
“Nah masih ada sekitar seribuan lagi yang ditanyakan tadi, yang seribuan tadi bukan berarti didiamkan. Yang seribuan tadi nanti Kementerian Dikdasmen akan melakukan kerja sama lagi untuk rencana pembangunannya,” jelasnya.
Baca Juga: Kunjungi Pulau Miangas, Presiden Prabowo Instruksikan Percepatan Renovasi Sekolah dan Puskesmas
Tantangan di lapangan dinilai cukup kompleks karena beberapa sekolah berdiri di zona merah alias kawasan rawan bencana tinggi.
Untuk sekolah di area berbahaya tersebut, opsi memindahkan lokasi bangunan (relokasi) secara permanen sedang digodok demi keselamatan jangka panjang siswa dan guru.
Agar aktivitas belajar-mengajar tidak mandek selama masa transisi, sekolah-sekolah yang hancur disiasati dengan memanfaatkan fasilitas kedaruratan seperti tenda kelas atau menumpang sementara waktu di fasilitas pendidikan terdekat yang kondisinya aman.










