URBANCITY.CO.ID – Pemerintah Indonesia resmi membuka gerbang baru bagi produk industri domestik melalui keikutsertaan sebagai negara mitra dalam INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia.
Langkah berani ini menjadi katalis utama dalam mempercepat hilirisasi mineral kritis serta memantapkan posisi manufaktur maju Indonesia di kancah internasional.
Bagi Anda yang mencermati tren investasi, integrasi industri bernilai tambah tinggi ke pasar Eurasia menawarkan prospek pertumbuhan yang sangat menjanjikan.
Sinergi ini memastikan sektor manufaktur nasional tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi dalam negeri, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok global, dalam INNOPROM 2026.
“Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri,” ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita.
Baca juga: Melampaui Batas Finansial: Mengukur Ketangguhan Industri Pembiayaan di Era Urban 2026
Manufaktur Sebagai Motor Pertumbuhan
Sektor Industri Pengolahan (IP) terus membuktikan ketangguhannya dengan mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,04 persen pada Triwulan I Tahun 2026.
Kontribusi masif senilai Rp1.179,62 triliun terhadap PDB nasional mencerminkan besarnya kapasitas produksi dan daya serap tenaga kerja yang mencapai 20,04 juta orang.
Kehadiran sektor manufaktur yang dominan dalam ekspor sebesar 83,61 persen menjadi sinyal kuat bagi investor untuk melirik perusahaan-perusahaan berbasis manufaktur.




