URBANCIY.CO.ID – Di wilayah Aceh Tengah, Provinsi Aceh, terjadi fenomena tanah amblas yang membentuk lubang raksasa atau sinkhole di sebuah perkebunan milik warga. Lokasi sinkhole ini berada di pinggir jalan lintas yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan bahwa fenomena pergerakan longsoran tanah di wilayah Kampung Bah, Kecamatan Ketol, terus membesar sejak pertama kali diketahui sekitar tahun 2000-an.
Berdasarkan pantauan terkini dari foto udara Antara pada Selasa, 14 Januari, pinggiran sinkhole tersebut sudah sangat dekat dengan pinggir jalan lintas penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah.
“Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, Kamis, 15 Januari.
Baca Juga : Fakta Lengkap Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak: Kronologi, Penumpang, dan Pencarian
Andalika menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan literatur pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang yang terus membesar tersebut.
Namun, setelah pergerakan awal sejak 2000-an hingga 2004, berdasarkan laporan masyarakat sekitar tahun 2006, longsoran tersebut pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik, yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Bener Meriah. Bahkan, pada tahun 2013-2014, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat dari Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” ujarnya.
Dalam kajian penyebab sinkhole, Andalika menjelaskan bahwa sebelumnya pernah dilakukan kajian tentang longsoran tanah tersebut, dan berdasarkan data dari Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahunnya. Sejak 2011, pengukuran pertambahan luasan longsoran dilakukan oleh ESDM Aceh.
Data terbaru pada 2025 menunjukkan luasan longsoran mencapai lebih dari 27 ribu meter persegi dan semakin mendekati jalan lintas.
Pada 2022, tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh berkolaborasi dengan BPBD Aceh Tengah untuk kajian lebih lanjut. Hasilnya, longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah menghantarkan air.
“Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan. Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan,” katanya.
Andalika menuturkan bahwa longsoran tanah di Kampung Bah saat ini bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena lubang runtuh tiba-tiba, melainkan pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan, atau slow moving landslide.
Faktor yang menyebabkan sinkhole meluas meliputi struktur tanah yang tidak stabil, tersusun dari material vulkanik yang mudah tererosi, mudah jenuh air, dan mudah bergerak. Curah hujan tinggi di daerah pegunungan membuat tanah semakin mudah tererosi, sehingga longsoran meluas. Lereng yang curam dan kemiringan tanah yang mendekati 90 derajat juga memperburuk kondisi.
“Retakan lama menjadi jalur masuk air baru. Pada saat terjadinya hujan, air akan masuk ke celah-celah tanah dan retakan yang lama, sehingga dapat sangat mudah memperluas skala longsoran tanah,” jelasnya.
Selain itu, beban dinamis dan statis dari lalu lintas kendaraan di jalan utama Blang Mancung-Simpang Balik, serta aktivitas seperti power sutet dan perkebunan warga, mempercepat kerusakan. Aktivitas gempa bumi juga dapat memicu pergerakan tanah, terutama dengan meningkatnya gempa tektonik dan vulkanis dari Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah, yang berjarak 20-35 kilometer dari lokasi.
“Namun, hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut terkait korelasi aktivitas gempa bumi dengan dampak meluasnya longsoran tanah di lokasi tersebut,” katanya.
Untuk penanganan, Andalika menyatakan perlu rekomendasi struktural dan non-struktural lebih lanjut. Saat ini, BPBD terus melakukan pemantauan berkala, memasang rambu peringatan, garis pembatas, dan pengaman di sekitar lokasi untuk mengurangi risiko kecelakaan. Pemukiman penduduk berjarak sekitar satu kilometer dari longsoran, dan belum ada rencana relokasi.
“Perkampungan jarak lebih kurang satu km dari titik longsoran. Untuk pemukiman belum ada rencana untuk relokasi. Mungkin setelah ada kajian terbaru baru bisa disimpulkan,” tegasnya.
“Kita juga terus berkoordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, Dinas ESDM dan OPD pemerintah lainnya terkait langkah jitu relokasi trase jalan Simpang Baling-Blang Mancung, dan keberadaan power sutet serta perkebunan masyarakat di sekitar lokasi tersebut,” sambungnya.
Pemerintah daerah terus mengawasi perkembangan ini untuk mencegah bahaya lebih besar bagi masyarakat dan infrastruktur.




