“Ketahanan ini terutama ditopang oleh konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Adrian.
Baca Juga: Ketegangan Venezuela dan AS, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
Namun, ia mengingatkan adanya tantangan struktural pada sisi konsumsi. Data menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada di kelas menengah rentan, yaitu kelompok yang daya belinya mudah tertekan dan sebagian besar bekerja di sektor informal.
“Kelompok menengah rentan ini menjadi kunci menjaga pertumbuhan. Karena itu, stimulus untuk menjaga daya beli dan reformasi pasar kerja menjadi sangat krusial,” katanya.
Dari sisi investasi, Adrian menilai kinerja masih bersifat stop and go akibat ketidakpastian global. Penanaman modal asing secara global mengalami tren penurunan terhadap PDB, meskipun Indonesia relatif lebih resilien dibanding negara lain.
Namun pada 2025, investasi asing mulai melemah dan tercermin pada fluktuasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Sementara itu, dari sisi perdagangan, tantangan utama 2026 adalah fragmentasi perdagangan global dan normalisasi harga komoditas. Surplus perdagangan Indonesia mulai menipis, meskipun peningkatan impor bahan baku memberi sinyal perbaikan aktivitas manufaktur dan penyerapan tenaga kerja.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi 2026 Dorong IHSG ke 10.000
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Adrian memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di kisaran 5,3–5,6%, dengan sejumlah prasyarat kebijakan.






