Baca Juga: Mandat Hambalang: Presiden Prabowo Pacu 13 Proyek Hilirisasi Baru Senilai Rp239 Triliun
Ekspor cocoa butter dan white chocolate ke pasar Prancis ini menunjukkan bahwa industri pengolahan kakao Indonesia semakin mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.
“Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memacu hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” kata Merrijantij.
Dari Petani Lokal ke Meja Chef Dunia
Dengan mengusung slogan “from local cacao farmers to the chef’s choice”, Adore berperan sebagai jembatan yang menghubungkan hasil keringat petani kakao lokal dengan kebutuhan para profesional kuliner dan pastry chef di kancah internasional.
Merrijantij menambahkan, penguatan hilirisasi ini dirancang untuk memberikan efek domino bagi sektor hulu.
“Kami terus mendorong keterpaduan antara sektor hulu dan hilir agar tercipta rantai pasok yang berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, termasuk peningkatan kesejahteraan petani kakao,” tuturnya.
Baca Juga: Sawit Bukan Sekadar CPO: PalmCo Mulai Hilirisasi Terpadu di Sei Mangkei
Dukungan Ekosistem Industri
Keberhasilan ini diharapkan menjadi stimulus bagi pelaku industri agro lainnya untuk berani melakukan inovasi dan ekspansi pasar.
Kemenperin berkomitmen untuk terus memberikan dukungan melalui berbagai kebijakan fasilitasi dan penguatan ekosistem industri.
Langkah ini diambil demi memastikan bahwa kakao Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk biji mentah, melainkan dalam bentuk produk olahan yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi, sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (*)






