Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan virus yang ditularkan oleh hewan pengerat, seperti tikus, kepada manusia. Penyakit ini disebabkan oleh Orthohantavirus dan pertama kali diidentifikasi di Belahan Bumi Barat. Di Indonesia sendiri, virus ini sempat terdeteksi pada Juni 2025 dengan 8 kasus yang tersebar di DIY, Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Utara.
Cara Penularan: Infeksi umumnya terjadi melalui udara (airborne) yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang mengering. Meski jarang, virus ini juga bisa menular melalui gigitan atau cakaran hewan tersebut.
Gejala yang Patut Diwaspadai
Infeksi Hantavirus bermanifestasi dalam dua sindrom utama:
1. Sindrom Paru Hantavirus (HPS) Menyerang sistem pernapasan dengan tingkat kematian mencapai 38 persen.
-
Gejala Awal: Demam, kelelahan, dan nyeri otot hebat di bagian paha, punggung, serta bahu.
-
Gejala Lanjutan: Batuk, sesak napas, hingga dada terasa sesak akibat paru-paru terisi cairan.
2. Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS) Memiliki dampak fatal pada fungsi ginjal.
-
Gejala: Sakit kepala hebat, mual, penglihatan kabur, hingga wajah memerah.
-
Kondisi Kritis: Gagal ginjal akut, pendarahan internal, dan syok akibat tekanan darah rendah.
Langkah Pencegahan
Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk Hantavirus selain terapi suportif. Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pencegahan dengan cara:
-
Menjaga kebersihan rumah, gudang, dan loteng agar tidak menjadi sarang tikus.
-
Menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat, baik yang hidup maupun mati.
-
Mengelola sampah dengan benar dan menggunakan alat pelindung diri (APD) bagi pekerja berisiko tinggi.
-
Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).






