URBANCITY.CO.ID – Industri perusahaan pembiayaan atau multifinance mengawali tahun 2026 dengan sikap waspada.
Di tengah dinamika ekonomi global, otoritas mencatat para pelaku industri cenderung lebih selektif dalam menyaring debitur guna menekan risiko gagal bayar yang membayangi portofolio mereka.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa kehati-hatian menjadi kunci keberlanjutan industri tahun ini.
“Di tengah dinamika perekonomian, perusahaan pembiayaan tetap menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan dengan pendekatan yang lebih selektif dalam memilih debitur guna memitigasi risiko gagal bayar,” ujar Agusman kepada wartawan di Jakarta.
Baca Juga: Laba Fintech Lending Tembus Rp383 Miliar, OJK Dorong Penyaluran ke Sektor Produktif Luar Jawa
Otomotif Masih Digdaya, Multiguna Mendominasi
Berdasarkan data per Februari 2026, segmen kendaraan bermotor masih menjadi tulang punggung utama.
Penyaluran pembiayaan untuk mobil baru mencatatkan nilai fantastis sebesar Rp143,28 triliun atau berkontribusi 26,47 persen dari total industri. Sementara itu, segmen mobil bekas membuntuti dengan raihan Rp88,36 triliun.
Dilihat dari jenis pembiayaannya, kategori multiguna masih tak tergoyahkan sebagai penopang utama dengan porsi 50,22 persen, tumbuh tipis 1,28 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp257,17 triliun.
Kontras dengan itu, pembiayaan investasi justru terkontraksi 2,89 persen menjadi Rp167,92 triliun. “Ke depan, pembiayaan multiguna diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan industri multifinance,” tambah Agusman.




