“Kami baru saja nonton road to Pagelaran Sabang Merauke yang penampilannya semeriah ini. Coba bayangkan seperti apa pertunjukannya nanti karena hanya Indonesia yang punya. Bersiaplah untuk ticket war,” tuturnya.
Tantangan Aransemen dan Bahasa Daerah
Salah satu penyanyi utama, Gabriel Harvianto, mengungkapkan tantangan teknis dalam mempersiapkan repertoar tahun ini.
Ia dijadwalkan membawakan lagu-lagu dari berbagai pelosok Nusantara, mulai dari Bungong Jeumpa (Aceh) hingga Sajojo (Papua).
“Persiapan sampai saat ini masih dalam tahap mendengarkan kembali musik dan aransemennya sehingga bisa terus menghafal lirik karena liriknya dari bahasa daerah yang agak sedikit rumit dan harus dilafalkan dengan benar,” ungkap Gabriel yang telah terlibat sejak 2023.
Baca Juga: Wamen Ekraf Irene Umar: Perempuan Adalah Penggerak Utama Mesin Baru Ekonomi Kreatif Nasional
Wadah Seniman Muda
Rangkaian parade di CFD hari ini dimeriahkan oleh hampir 200 penari, Marching Band Gita Handayani, Barongsai Kong Ha Hong, hingga Jember Fashion Carnaval.
Kehadiran ratusan penari yang juga melibatkan pelajar SMK menunjukkan fungsi pagelaran ini sebagai wadah regenerasi seniman.
Kementerian Ekraf menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pembinaan talenta melalui pendekatan kolaborasi hexahelix.
Dengan memanfaatkan ruang publik seperti CFD, pemerintah berharap seni pertunjukan musik dan tari tradisional dapat terus relevan dan diapresiasi oleh generasi muda hingga panggung global. (*)






