URBANCITY.CO.ID – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela telah memicu perhatian global, termasuk dari Indonesia, terkait potensi dampaknya pada ekonomi nasional.
Presiden AS Donald Trump melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro melalui operasi militer di Caracas pada Sabtu tanggal 3 Januari. Tak lama setelah itu, Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa AS akan menguasai minyak Venezuela.
Venezuela dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025, cadangan minyak terbukti negara tersebut mencapai 303,22 miliar barel, yang setara dengan hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia sebesar 1.566,86 miliar barel.
Pemerintah Indonesia saat ini sedang memantau dampak konflik ini, khususnya terhadap harga minyak dunia.
Baca Juga : Venezuela: Kekayaan Minyak yang Kontras dengan Krisis Sosial
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa harga minyak dunia sejauh ini masih stabil.
“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barrel,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin tanggal 5 Januari.
Lalu, apa sebenarnya dampak konflik AS-Venezuela terhadap ekonomi Indonesia?
Menurut Kepala Center Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman, penahanan paksa Presiden Venezuela oleh AS tidak memberikan dampak langsung pada ekonomi Indonesia.
Hal ini karena hubungan dagang antara kedua negara sangat kecil. Akibatnya, tidak ada efek instan terhadap ekspor, impor, atau pertumbuhan ekonomi nasional.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa Venezuela adalah negara tujuan ekspor ke-98 bagi Indonesia, dan sebagai negara asal impor, berada di posisi ke-105.
Namun, Rizal menekankan bahwa konflik ini tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan ketidakpastian global, yang akhirnya memengaruhi Indonesia secara tidak langsung.
Dampak utama yang mungkin dirasakan adalah melalui harga minyak, mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
“Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga ini bisa mendorong inflasi, menaikkan biaya transportasi dan logistik, dan menambah beban subsidi energi pemerintah. Jadi tekanannya bukan dari hubungan langsung, tapi dari perubahan harga global,” ujar Rizal pada CNNIndonesia.com.
Selain itu, ia menambahkan bahwa konflik geopolitik biasanya membuat investor global lebih konservatif. Dana cenderung dialihkan dari negara berkembang ke aset aman seperti dolar AS. Hal ini bisa menekan nilai rupiah dalam jangka pendek, meskipun ekonomi domestik masih stabil.
Rizal menyimpulkan bahwa konflik AS-Venezuela sebaiknya dilihat sebagai sumber gejolak global tambahan yang menciptakan ketidakpastian ekonomi.
“Dampaknya ke Indonesia bersifat tidak langsung dan sangat tergantung pada apakah konflik tersebut benar-benar mendorong lonjakan harga minyak dan memperburuk sentimen pasar dunia,” katanya.
Pendapat serupa datang dari Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny Sasmita, yang menilai hubungan ekonomi Indonesia-Venezuela sangat terbatas. Venezuela bukan mitra dagang utama, baik ekspor maupun impor.
Volume perdagangannya pun kecil dan tidak strategis.
“Indonesia juga tidak bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela. Jadi, hubungan ekonomi kedua negara tidak cukup besar untuk menimbulkan dampak langsung bila terjadi konflik,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dampaknya lebih tidak langsung, terutama melalui sentimen global daripada perdagangan. Ketegangan geopolitik dapat membuat investor global lebih hati-hati, sehingga berpotensi menekan pasar keuangan negara berkembang, termasuk rupiah dan IHSG, dalam waktu singkat.
Dari segi harga minyak, dampaknya terbatas karena kontribusi Venezuela terhadap pasokan minyak dunia saat ini tidak signifikan, meski cadangannya terbesar. Namun, konflik ini tetap menambah ketidakpastian di pasar energi global.
Baca Juga : Penguatan Bitcoin Dorong Pasar Kripto Capai 1,84 Triliun Dolar AS
Untuk menghadapi konflik yang masih berkembang, Ronny merekomendasikan fokus pada tiga aspek.
Pertama, mempertahankan stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar dan cadangan devisa, agar tahan gejolak global. Kedua, mengurangi ketergantungan pada harga energi melalui diversifikasi sumber energi.
Ketiga, menjaga kebijakan luar negeri yang netral dan mandiri, sehingga Indonesia tidak terlibat dalam eskalasi geopolitik yang merugikan ekonomi.
“Pendeknya, konflik AS-Venezuela bukan risiko besar bagi ekonomi Indonesia secara langsung. Tantangannya lebih pada mengelola efek rambatan global. Selama fondasi ekonomi domestik kuat, dampaknya bisa dikendalikan,” terangnya.




