URBANCITY.CO.ID – Di ruang kedap dengan deru mesin gas kromatografi yang monoton, sekumpulan analis berjas putih di kilang PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) memegang kendali atas angka-angka yang sangat sensitif.
Di industri gas alam cair, meleset satu digit di belakang koma bukan sekadar urusan kecerobohan teknis, melainkan perkara hilangnya pundi-pundi dolar dalam transaksi energi global.
Akurasi krusial di balik sekat laboratorium ini disingkap dalam perhelatan akbar Indonesia Petroleum Association (IPA) Convex ke-50 di ICE BSD, Tangerang.
Laboratory Supervisor DSLNG, Mohd Taufiq, bersama Junior Engineer DSLNG, Indah Abdullah, membeberkan bagaimana dapur pengujian mereka menjadi benteng penentu harga jual kargo gas.
Baca Juga: DSLNG Raih PROPER Hijau 2026, Tingkatkan Kinerja Lingkungan
Semua bermula dari uji komposisi kimia gas. Dari sana, tim laboratorium akan merumuskan heating value (nilai kalor) untuk menghitung kuantitas energi riil (energy content) yang dilepas ke pembeli (buyer).
“Hasil komposisi LNG ini akan menentukan heating value dan dari heating value ini akan kita hitung menjadi energi kuantiti yang pada akhirnya diubah menjadi nilai transaksi,” ujar Mohd Taufiq di hadapan pengunjung stan DSLNG.
Taufiq tak menampik bahwa ruang laborat adalah hulu dari seluruh rantai custody transfer (serah terima komoditas). Deviasi sekecil apa pun pada fase awal dipastikan bakal memicu efek domino yang merusak neraca dagang korporasi.
“Oleh karena itu, kesalahan di awal pada analisis komposisi akan menyebabkan nilai transaksi yang kurang atau lebih. Hal ini tentu tidak baik bagi bisnis LNG,” kata Taufiq. “Kesalahan kecil dalam pengukuran dapat menyebabkan dampak finansial yang signifikan.”




