URBANCITY.CO.ID – Laporan terbaru IQAir mengungkap fakta suram mengenai kondisi atmosfer di Benua Biru. Sepanjang tahun 2025, kualitas udara di mayoritas negara Eropa dilaporkan merosot tajam, meninggalkan hanya sebagian kecil wilayah yang masih masuk dalam kategori aman bagi kesehatan manusia.
Secara global, tren penurunan ini kian mengkhawatirkan. Hanya 14 persen kota di dunia yang memiliki kualitas udara sesuai ambang batas kesehatan, turun dari angka 17 persen pada tahun sebelumnya. Eropa, yang selama ini dikenal ketat dalam regulasi lingkungan, kini tak luput dari krisis polusi tersebut.
Mengutip Euronews, Minggu, 29 Maret 2026, salah satu pemicu utama memburuknya polusi di Eropa adalah kebakaran hutan hebat yang melanda wilayah Uni Eropa, dengan puncak eskalasi pada Agustus tahun lalu. Bencana ini tidak hanya menghanguskan permukiman, tetapi juga melepas partikel beracun ke atmosfer dalam skala masif.
Kondisi tersebut diperparah oleh anomali cuaca ekstrem, mulai dari gelombang panas (heatwave), kekeringan panjang, hingga banjir bandang yang mengganggu sirkulasi udara alami.
Baca Juga : Demo No Kings: Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Donald Trump
Gagal Memenuhi Standar PM2.5
Berdasarkan parameter Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas aman konsentrasi partikel halus (PM2.5) ditetapkan sebesar 5 mikrogram per meter kubik. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Di seluruh Eropa, kini hanya tersisa tiga negara yang berhasil menjaga level polusi di bawah ambang tersebut, yakni Andorra, Estonia, dan Islandia.
Data IQAir menunjukkan 23 negara Eropa mencatat kenaikan kadar PM2.5 tahunan. Lonjakan paling signifikan terjadi di Swiss dan Yunani dengan kenaikan lebih dari 30 persen. Faktor eksternal seperti asap kebakaran hutan dari Amerika Utara dan sebaran debu dari Gurun Sahara turut memperkeruh langit Eropa.




