URBANCITY.CO.ID – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan hebat pada pekan pertama perdagangan pasca-libur Lebaran 1447 H.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terjepit di antara euforia domestik dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya blokade di Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG parkir di level 7.097,057 pada penutupan Jumat, 27 Maret 2026, terkoreksi tipis 0,14 persen secara mingguan.
Padahal, saat perdagangan perdana usai libur panjang pada 25 Maret, indeks sempat terbang 2,75 persen ke posisi 7.302,12.
Namun, aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp1,76 triliun dalam sepekan menyeret indeks kembali ke zona merah.
Baca Juga: Menteri Keuangan Yakin IHSG Tidak Akan Turun Drastis Saat Pembukaan Senin
Di pasar valas, Rupiah lunglai pada rentang Rp16.850 hingga Rp16.997 per dolar AS. Kondisi ini berbanding lurus dengan meroketnya harga minyak mentah Brent yang menyentuh US$112 per barel akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz, jalur nadi bagi 20 persen pasokan minyak global.
Ancaman ‘Perfect Storm’ bagi APBN
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai gejolak ini bukan sekadar sentimen musiman. Menurutnya, Indonesia sedang berada di pusaran gangguan pasokan (supply shock) yang mengancam struktur APBN.
“Rebound IHSG pada 25 Maret lalu hanyalah euforia likuiditas domestik yang bersifat sementara. Realitas pahitnya adalah Indonesia sedang menghadapi perfect storm. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas ketegangan dengan AS-Israel telah memukul Indonesia tepat di titik lemahnya: ketergantungan pada impor BBM,” ujar Kusfiardi dalam keterangannya, Senin, 30 Maret 2026.




