URBANCITY.CO.ID – Bursa saham Indonesia kembali terguncang. Pagi tadi indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka anjlok hingga 1,38% ke posisi 6.763.
Hingga penutupan perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), IHSG semakin terkapar di posisi 6.720, masih jauh dari level penutupan kemarin yang ada di posisi 6.858.
Beberapa analis memang sudah “meramalkan” penurunan IHSG jika Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis pengumuman yang mencengangkan. Benar saja, MSCI membuang enam saham besar dalam daftar MSCI Global Standard Index.
Keenam saham itu adalah AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk, BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk, TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk), DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), saham CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk), dan saham AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk).
Baca Juga: IHSG Maret 2026 Terkoreksi, OJK Catat Jumlah Investor Tembus 24,74 Juta Orang
“Pasar saham bereaksi atas pengumuman rebalancing MSCI 12 Mei 2026,” kata Hans Kwee, praktisi pasar modal kepada Urbancity, Rabu (13/5/2026).
AMRT memang tak sepenuhnya hengkang dari daftar MSCI. Saham pengendali jaringan ritel Alfamart itu hanya turun kelas, lantaran masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index.
Sayangnya, ketika AMRT masuk ke dalam indeks itu, ada 13 saham lain yang didepak keluar. Saham-saham itu adalah ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.
Menurut Hans Kwee, transparansi menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk menata pasar modal. Peran OJK dan SRO (BEI, KPEI, KSEI) sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil.




