URBANCITY.CO.ID – Sebuah penelitian teranyar yang dirilis pada awal April 2026 memberikan peringatan keras bagi keberlangsungan hidup manusia. Ledakan populasi yang dibarengi dengan tingkat konsumsi yang eksploitatif disebut telah melampaui “daya dukung” (carrying capacity) Bumi. Planet ini dinilai tak lagi mampu menyokong kebutuhan manusia secara berkelanjutan tanpa adanya perubahan radikal.
Riset yang dipimpin oleh Corey Bradshaw dari Flinders University, Australia, ini menggunakan basis data populasi selama lebih dari dua abad. Hasilnya, para peneliti menemukan fakta mengkhawatirkan: usia kehidupan manusia di masa depan bakal jauh melampaui batas kemampuan regenerasi sumber daya alam.
Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Environmental Research Letters pada 27 Maret 2026, para ahli ekologi menjelaskan bahwa spesies Homo sapiens adalah “pakar” dalam memanipulasi batas alami. Melalui inovasi teknologi dan eksploitasi bahan bakar fosil, manusia berhasil menutupi keterbatasan sumber daya alam demi memacu pertumbuhan populasi.
Istilah “daya dukung” sendiri sebenarnya berakar dari industri pelayaran abad ke-18, yang merujuk pada kapasitas muatan maksimal kapal tanpa mengorbankan pasokan bahan bakar dan awak. “Ekonomi saat ini, yang bertumpu pada pertumbuhan tanpa henti, tampaknya tidak mengakui keterbatasan regeneratif dari ekspansi populasi yang berkelanjutan, karena bahan bakar fosil secara artifisial menutupi kekurangannya,” tulis para peneliti sebagaimana dikutip dari Science Alert, Selasa, 7 April 2026.
Baca Juga : Kisah Bayi Monyet Punch: Dari Penolakan Induk hingga Pelukan Kawanan di Ichikawa
Ketergantungan ini kian rentan mengingat situasi geopolitik global saat ini, termasuk konflik AS-Israel dengan Iran yang mengguncang stabilitas pasokan energi dunia.
Berdasarkan model pertumbuhan ekologi, tim Bradshaw melacak perubahan populasi secara global dan regional. Mereka membedakan antara daya dukung maksimum (batas absolut teoritis) dan daya dukung optimal (standar hidup minimum yang berkelanjutan).
“Bumi tidak mampu mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bahkan permintaan saat ini pun tidak dapat dipenuhi tanpa perubahan besar, dan temuan kami menunjukkan bahwa kita mendorong planet ini lebih keras daripada yang bisa ditanggungnya,” ujar Bradshaw.
Meski laju pertumbuhan mulai melambat sejak 1960-an—sebuah periode yang disebut Bradshaw sebagai “fase demografis negatif”—jumlah absolut manusia terus merangkak naik. Penelitian ini memprediksi populasi global akan mencapai puncaknya di angka 11,7 hingga 12,4 miliar jiwa pada akhir 2060-an atau 2070-an.
Fakta yang paling mencolok dari riset ini adalah angka ideal penghuni Bumi. Para peneliti menyebut bahwa dengan tingkat konsumsi saat ini, daya dukung optimal Bumi sebenarnya hanya sanggup menampung 2,5 miliar orang.
Angka ini sangat kontras dengan populasi dunia saat ini yang telah mencapai 8,3 miliar jiwa. Dampaknya sudah terlihat nyata di berbagai lini:




