URBANCITY.CO.ID – Emiten properti milik keluarga Sri Tahir, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO), mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada pembukaan tahun 2026.
Meski pendapatan meroket hingga 128,6 persen, perseroan terpantau masih bergelut dengan tumpukan defisit yang membengkak.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, MPRO membukukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp8,71 miliar.
Angka ini sebenarnya menyusut 24,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp11,48 miliar. Perbaikan ini turut menekan rugi per saham dasar menjadi Rp0,00088 dari sebelumnya Rp0,00116.
Baca Juga: Kinerja BCA Kuartal I-2026: Kredit Tumbuh Rp994 Triliun dan Laba Bersih Rp14,7 Triliun
Loncatan pendapatan menjadi sorotan utama, di mana MPRO mengantongi Rp1,09 miliar, jauh melampaui capaian Kuartal I 2025 yang hanya Rp479,87 juta.
Seiring kenaikan tersebut, laba kotor perseroan melonjak drastis menjadi Rp323,04 juta dari sebelumnya hanya Rp2,85 juta.
Beban Menyusut, Defisit Menebal
Manajemen MPRO terpantau melakukan efisiensi pada pos beban umum dan administrasi yang menciut menjadi Rp4,15 miliar dari Rp6,35 miliar.
Menariknya, terdapat lonjakan pada pendapatan lain-lain yang mencapai Rp243,46 miliar, melesat dari posisi tahun lalu yang hanya Rp35,76 juta.
Baca Juga: Kinerja Jamkrindo 2025: Cetak Laba Rp1,05 Triliun dan Jamin 5,56 Juta UMKM
Namun, di balik perbaikan kinerja operasional, rapor merah masih terlihat pada saldo defisit perseroan. Hingga akhir Maret 2026, akumulasi defisit MPRO membengkak menjadi Rp220,68 miliar dari posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp211,96 miliar.




