URBANCITY.CO.ID – Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan berupaya mempercepat implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) di Sulawesi Selatan sebagai strategi memperkuat ekspor dan stabilitas harga komoditas.
Melalui Rapat Koordinasi Teknis di Makassar, Jumat, 24 April 2026, Bappebti menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan gudang-gudang yang tersedia.
Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, menyatakan bahwa potensi pemanfaatan SRG di wilayah ini sangat besar, terutama didorong oleh terbukanya pangsa pasar internasional.
Pengalaman keberhasilan ekspor rumput laut melalui Gudang SRG Makassar menjadi bukti nyata efektivitas instrumen ini.
Baca Juga: Kemendag Ekspor Rumput Laut Maros ke Tiongkok: Optimalkan Resi Gudang dan Desa BISA Ekspor
“Sulawesi Selatan memiliki potensi komoditas yang besar. Belajar dari keberhasilan ekspor rumput laut melalui Gudang SRG Makassar beberapa waktu lalu, ke depan, implementasi SRG di Sulawesi Selatan masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujar Tirta.
Potensi 27 Komoditas dan Tunda Jual
Saat ini, Sulawesi Selatan telah memiliki 12 gudang SRG milik pemerintah dan 15 gudang milik swasta. Berbagai komoditas mulai dari rumput laut, karagenan, ikan, hingga beras mulai memanfaatkan fasilitas ini.
Berdasarkan Permendag Nomor 3 Tahun 2020, terdapat 27 jenis komoditas yang dapat disimpan di gudang SRG untuk mendapatkan pembiayaan.
Sekretaris Bappebti, Ivan Fithriyanto, mengingatkan bahwa SRG merupakan pilar penting dalam klaster “Desa Bisa Ekspor” milik Kemendag.




