URBANCITY.CO.ID – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pelayaran sering kali diidentikkan dengan birokrasi kaku dan operasional yang rentan kongkalikong.
Citra miring inilah yang coba dikikis habis oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Maskapai jangkar nasional ini baru saja melakukan gebrakan besar dalam membenahi manajemen internalnya dari hulu hingga hilir.
Tak tanggung-tanggung, PELNI memborong tujuh sertifikat ISO terintegrasi sekaligus dari lembaga sertifikasi internasional PT TÜV NORD Indonesia. Seremoni penyerahan dokumen kelayakan global ini digelar di Kantor Pusat PELNI, Jakarta, pada Kamis (4/6).
Tujuh sertifikat yang berhasil disabet itu membentuk benteng pertahanan tata kelola yang rapat. Mulai dari ISO 9001:2015 (Mutu), ISO 14001:2015 (Lingkungan), ISO 45001:2018 (K3), ISO 37001:2016 (Anti Penyuapan), ISO 37301:2021 (Kepatuhan), ISO 55001:2024 (Manajemen Aset), hingga ISO 27001:2022 untuk urusan Keamanan Informasi.
Baca juga: Cari Ratusan Pelaut Baru, PT PELNI Gelar Rekrutmen Terbuka dan Campus Hiring
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI, Anik Hidayati, menyebut borongan sertifikat ini sebagai pembuktian bahwa standar global kini bukan lagi barang asing di tubuh PELNI.
Ia menyebut, prestasi ini adalah cerminan dari budaya kerja yang terstandar, tata kelola yang akuntabel, kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan, serta komitmen terhadap integritas dan kepatuhan hukum yang telah mengakar di seluruh organisasi PELNI.
“Dengan diraihnya sertifikasi ini, PELNI juga menegaskan posisinya sebagai perusahaan pelayaran nasional yang tidak hanya unggul dalam konektivitas maritim, tetapi juga dalam kualitas pengelolaan perusahaan,” ujar Anik usai menerima trofi sertifikasi dari Direktur PT TÜV NORD Indonesia, Gde Bayu Wicaksana.




