URBANCITY.CO.ID – Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh saban 5 Juni kembali menjadi panggung pembuktian bagi badan usaha milik negara. Kali ini, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PT PELNI yang unjuk gigi.
Mengandalkan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan transportasi laut ini meluncurkan paket program hijau yang mengawinkan aksi penanaman pohon dengan tata kelola limbah operasional kapal secara modern.
Di sektor penghijauan, PELNI menyebar lebih dari 200 bibit pohon ke empat wilayah operasional mereka, yakni Ternate, Sampit, Parepare, dan Bima.
Langkah jemput bola ini sengaja diambil untuk memperluas sabuk hijau di sekitar area pelabuhan sekaligus menekan dampak buruk perubahan iklim global.
Baca juga:Â Borong Tujuh Sertifikat ISO, PELNI Rombak Total Tata Kelola Pelayaran Nasional
Namun, daya pikat utama dari gerakan kelestarian PELNI tahun ini justru terletak pada keberhasilan mereka mengeksekusi prinsip ekonomi sirkular pada peranti keselamatan kapal yang kedaluwarsa.
Mengubah Pelampung Usang Menjadi Sepatu
PELNI secara kreatif menyulap tumpukan baju pelampung (life jacket) yang sudah melewati masa pakainya menjadi produk fesyen fungsional seperti tas dan sepatu.
Langkah daur ulang (upcycling) ini tidak hanya membersihkan gudang perusahaan dari limbah logistik, tetapi juga berhasil melahirkan produk baru yang bernilai ekonomi tinggi.
Kalkulasi di atas kertas menunjukkan efisiensi lingkungan dari proyek ini terbilang fantastis. Setiap barang hasil daur ulang mengandung sekitar 71 persen material yang berasal dari limbah life jacket.




