Penyelamatan Orang Utan di Sampit Ungkap Urgensi Investasi Hijau Berkelanjutan

Induk dan anak orang utan, Raya dan Rayu, jalani pemeriksaan medis usai evakuasi di Sampit.

URBANCITY.CO.ID – Keberlanjutan lingkungan kini menjadi indikator vital bagi ketahanan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat urban moderen.

Insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengikis nilai valuasi wilayah serta memicu polusi lintas batas, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati yang menopang stabilitas ekosistem.

Beruntung, tim penyelamat berhasil mengevakuasi sepasang induk dan anak orang utan—kini bernama Raya dan Rayu—dari kepungan bara karhutla di Hutan Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (2/9).

Kondisi fisik kedua satwa endemik tersebut memberi harapan besar bagi kelangsungan ekologis kawasan penyangga perkotaan.

Baca Juga: Rehabilitasi Orangutan dan Mangrove, BNI Dukung Relawan Bakti BUMN

Tim medis mencatat kondisi stabil pada Raya, orang utan betina berusia sekitar 20 tahun, serta bayinya, Rayu, yang baru menginjak usia satu tahun.

Keberhasilan penyelamatan ini menggarisbawahi pentingnya komitmen mitigasi bencana lingkungan demi menjaga daya tarik investasi hijau berkelanjutan di daerah berkembang.

Dokter hewan Orangutan Foundation International (OFI), drh Ichlasul Khaerul, memaparkan hasil observasi awal terkait kondisi kesehatan kedua satwa tersebut.

“Setelah kami melakukan evakuasi, evaluasi dan observasi, alhamdulillah kondisinya masih terlihat baik,” kata Ichlasul, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Komitmen ESG, BNI Gandeng Kemenhut Lindungi Dua Satwa Langka Indonesia

Paparan asap karhutla memang sempat menyelimuti ruang hidup keduanya, namun tim medis belum menemukan penurunan imunitas yang drastis.

Indikator klinis ini menjadi angin segar mengingat polusi asap kerap melumpuhkan metabolisme satwa sekaligus menurunkan standar indeks kualitas udara (AQI) masyarakat sekitar.

“Aktivitas kedua orang utan menjadi salah satu indikatornya. Saat proses evakuasi dan pembiusan dilakukan, keduanya masih memberikan respons,” katanya.

Pemeriksaan komprehensif mengonfirmasi ketiadaan luka bakar atau trauma benturan ranting pohon tumbang pada tubuh induk maupun anak orang utan tersebut.

Baca Juga: Wamenparekraf: Kebun Binatang Surabaya Bangkit dari Pandemi

Meski demikian, tim medis memitigasi potensi dehidrasi ekstrem akibat hawa panas dengan mengambil sampel darah dan rambut untuk uji laboratorium.

“Dari lingkar perut maupun rongga dada semuanya terlihat baik. Tidak ada tulang yang sangat kelihatan jelas,” jelas Ichlasul.

Patroli Sigap Lindungi Habitat Perbatasan 

Patroli rutin anggota TNI mendeteksi pergerakan kedua primata ini tepat di koridor Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya.

Baca Juga: Prospek Investasi Hijau: Kolaborasi PLTS Bali Dorong Ekosistem Modern

Area ini berbatasan langsung dengan perkebunan sawit masyarakat yang rentan mengalami friksi tata ruang dan ancaman api.

Sinergi aparat keamanan dan tim konservasi berhasil menarik keluar induk serta anak orang utan ini sebelum api membakar sarang mereka.

Proses evakuasi yang bergulir hingga malam hari membuktikan tingginya kesadaran lintas sektor terhadap perlindungan aset keanekaragaman hayati.

Penyelamatan aset alam seperti ini secara langsung melindungi ekosistem penyerap karbon, yang menjadi pilar fundamental dalam skema pasar karbon dan investasi ramah lingkungan.

Baca Juga: Icon Plus Dukung Kemenlu Dorong Investasi Hijau Korea Selatan

Translokasi Satwa Demi Menjaga Keseimbangan Alam 

Kini, tim mengevakuasi Raya dan Rayu menuju fasilitas karantina BKSDA guna memastikan kesiapan translokasi ke lanskap hutan primer yang aman.

Upaya translokasi ini merefleksikan nilai-nilai green living yang kini dipegang teguh oleh masyarakat perkotaan, di mana eksistensi satwa liar terlindungi menjadi tolak ukur kualitas pengelolaan alam secara beradab.

“Setelah proses penyelamatan, keduanya akan dibawa ke BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW II) di Pangkalan Bun untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” katanya.

Baca Juga: Platform Digital: Solusi Cerdas Investasi Lingkungan Hadapi El Nino Ekstrem

Langkah strategis berikutnya sangat bergantung pada hasil diagnosis laboratorium dan persetujuan otoritas berwenang demi memastikan keamanan habitat baru mereka.

“Selanjutnya kami akan berkoordinasi bersama pihak BKSDA. Tentunya kami akan bawa ke BKSDA SKW II di Pangkalan Bun. Sampel darah yang kami ambil akan diperiksa di laboratorium,” kata Ichlasul.

Harmonisasi Ekologi Kunci Stabilitas Investasi

Penyelamatan Raya dan Rayu melampaui sekadar aksi evakuasi satwa tunggal, melainkan sinyal nyata bagi para pengembang kawasan dan pelaku bisnis perkebunan.

Baca Juga: Pertamina Eco RunFest 2026: Investasi Gaya Hidup Hijau dan 7 Inisiatif Berkelanjutan

Keberhasilan menekan deforestasi serta karhutla merupakan parameter utama implementasi environmental, social, and governance (ESG) yang kini menjadi syarat mutlak pendanaan institusional global.

Integrasi antara ruang hijau kota, tata kelola lahan yang bertanggung jawab, dan komitmen konservasi niscaya menghindarkan kawasan industri dari risiko kerugian operasional akibat kabut asap.

Pada akhirnya, perlindungan terhadap habitat alami menghadirkan masa depan perkotaan yang sehat, berdaya tahan tinggi, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Related Posts

Add New Playlist

404 Not Found

404

Not Found

The resource requested could not be found on this server!


Proudly powered by LiteSpeed Web Server

Please be advised that LiteSpeed Technologies Inc. is not a web hosting company and, as such, has no control over content found on this site.