URBANCITY.CO.ID – Kualitas udara bersih dan stabilitas lingkungan kini menjadi indikator fundamental yang menentukan nilai investasi properti serta kenyamanan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membayangi kawasan penyangga urban tidak sekadar mengancam kelestarian alam, melainkan berisiko mendepresiasi nilai aset hunian jika respons tanggap darurat melambat.
Menyikapi urgensi tersebut, tim gabungan di Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, mengintensifkan pembasahan lahan gambut guna menjamin kawasan permukiman terbebas dari ancaman kabut asap berkepanjangan.
Kapolresta Palangka Raya Kombes Andiyatna mengatakan salah satu kendala dalam proses pemadaman adalah sulitnya akses menuju lokasi kebakaran. Jarak titik api yang cukup jauh diperparah dengan kondisi jembatan menuju lokasi yang putus.
Baca Juga:Â Titik Api Karhutla di Kalimantan dan Sumatra Melonjak, BNPB Siaga Penuh
“Kita pemadaman di Banturung. Sekarang kondisinya sebagian sudah padam, tinggal pembasahan bara gambut,” kata Andiyatna, Jumat (2/10/2026).
Akselerasi Alat Berat Buka Akses Logistik
Kondisi medan yang terputus mendorong kolaborasi taktis antar-instansi demi mempertahankan perimeter aman bagi mobilitas armada pemadam kebakaran.
Tanpa jalur penghubung yang memadai, armada tangki air berkapasitas besar tertahan, sehingga petugas memprioritaskan pengerahan alat berat dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Palangka Raya. Langkah ini memastikan pasokan logistik keselamatan terus mengalir tanpa hambatan berarti.
Baca Juga:Â Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Redam Karhutla dan Lindungi Investasi
“Membuat jembatan atau akses jalan ke titik api, supaya tim bisa menggunakan kendaraan roda empat masuk ke dalam titik api, sehingga pemadamannya berjalan optimal,” ujarnya.
“Dalam pemadaman kita inginnya berjalan optimal. Karena aksesnya jauh dan banyak titik, kemudian kita menemukan akses ke sana jembatannya putus. Kita harus buat jembatan, makanya kita pinjam alat berat ke Perkim,” katanya.
Solusi Pasokan Air Jamin Keberlanjutan Lahan
Kepastian mitigasi bencana di kawasan gambut menuntut ketersediaan sumber daya terintegrasi agar bara api tidak membakar lapisan bawah tanah secara tersembunyi.
Baca Juga:Â Tersangka Karhutla di Berau Mengaku Diperintah Pemilik Lahan Sawit
Petugas di lapangan langsung membangun sumur bor darurat sebagai infrastruktur suplai air mandiri untuk mempercepat pembasahan total.
Keberadaan cadangan air ini menekan risiko polusi partikulat halus yang berpotensi merusak standar hidup sehat komunitas perkotaan.
“Kita juga buat sumur bor di dalam. Kita selalu berupaya untuk membuat akses kalau memang di sana kurang air, kita buat sumur bor, kurang akses jalan kita buat jalan,” tegas Andiyatna.
Kepala Disperkimtan Kota Palangka Raya, Sumarsono membenarkan pihaknya mengerahkan alat berat untuk membantu penanganan karhutla di Banturung. Menurutnya, pekerjaan tersebut dilakukan berdasarkan arahan pengendali lapangan dari Polri dan BKSDA.
Baca Juga:Â PTM Terbatas Palangka Raya: Strategi Proteksi Anak dan Mutu Edukasi
“Iya benar. Dari Perkimtan diperbantukan ke Polri. Kami hanya mengikuti arahan pengendali dari pihak Polri dan BKSDA,” kata Sumarsono.
Proteksi Aset Kawasan Perkuat Nilai Properti
Kesiapan tanggap darurat yang terpadu memberikan kepastian hukum dan keamanan lingkungan bagi para pemegang aset properti di sekitar koridor Bukit Batu.
Kolaborasi teknis ini mengoptimalkan jalur eksisting tanpa merusak lanskap ekologis yang ada, sehingga keseimbangan alam perkotaan tetap terlindungi dengan baik.
Baca Juga:Â Deteksi TBC Jombang: Lindungi Aset Produktif dan Kesehatan Keluarga
“Kita membuat jalan untuk memperlancar akses sarana dan personel pemadaman. Jalan-jalan tersebut memang bukan jalan baru,” pungkasnya.
Pada akhirnya, efisiensi penanganan karhutla membuktikan bahwa konektivitas infrastruktur dan ketangguhan lingkungan merupakan jaminan mutlak bagi pertumbuhan investasi properti hijau serta kenyamanan gaya hidup urban yang sehat.




