URBANCITY.CO.ID – Kebutuhan masyarakat urban terhadap perlindungan proteksi kesehatan modern mendorong percepatan digitalisasi rantai pasok medis nasional.
Menjawab dinamika tersebut, PT Bio Farma (Persero) memperkenalkan rangkaian inovasi teknologi mutakhir dalam riset, produksi, dan distribusi vaksin pada ajang Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Jakarta.
Kehadiran holding BUMN farmasi ini memperkuat kapasitas industri domestik sekaligus membuka peluang ekonomi bernilai tambah tinggi bagi investor dan mitra global.
Forum prestisius bertema “Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth” tersebut menarik antusiasme lebih dari 1.500 peserta lintas sektor.
Baca Juga: Bio Farma Dorong UMKM Kreatif Naik Kelas di INACRAFT 2026
Bio Farma memanfaatkan kehadiran inovator dunia, eksekutif teknologi, lembaga riset, hingga pemodal ventura untuk mengonversi potensi sains menjadi portofolio investasi kesehatan berkelanjutan.
Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa DTIIF memiliki tiga tujuan utama.
“Melalui DTIIF, kami memiliki tiga ambisi utama. Pertama, membangun kemitraan yang mendukung transformasi ekonomi dan industri Indonesia dalam jangka panjang. Kedua, memobilisasi modal dan keahlian global untuk mengubah proyek-proyek strategis menjadi peluang investasi yang terukur. Ketiga, memastikan berbagai kolaborasi dan dialog yang terjalin dapat menghasilkan inisiatif nyata dan berkelanjutan, bahkan setelah forum ini berakhir,” ujar Rosan.
Bio Farma merespons visi tersebut dengan menjajaki kerja sama konkret bersama para penyedia teknologi serta pemilik modal. Integrasi kemitraan ini mempercepat transfer teknologi dan memangkas waktu riset formula vaksin baru secara signifikan.
Baca Juga: Bio Farma Bantu Korban Longsor Bandung Barat dengan Vaksin Tetanus dan Logistik
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menyampaikan bahwa kolaborasi merupakan salah satu faktor penting dalam menghasilkan produk farmasi yang inovatif dan berdaya saing di pasar global.
“Untuk menjadikan satu produk itu memerlukan riset dan pengembangan (R&D), inovasi, dan teknologi. Jadi, kita harapkan dari pertemuan ini ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk pengembangan Bio Farma,” ujar Shadiq.
Transformasi Digital Menjaga Kualitas Hidup Masyarakat Modern
Kepastian mutu vaksin memegang peran vital dalam menopang mobilitas tinggi kaum urban perkotaan. Bio Farma menjawab kebutuhan ini lewat peluncuran Medtrack, platform pemantauan distribusi berbasis Internet of Things (IoT) yang mengawal rantai dingin secara real-time.
Baca Juga: Bio Farma Raih Primaniyarta 2026: Bukti Cuan Ekspor Industri Medis
Sistem cerdas ini mengunci stabilitas suhu dan memitigasi anomali jalur ekspedisi, sehingga setiap dosis vaksin tetap aman saat disuntikkan ke tubuh konsumen.
Di ruang laboratorium, Bio Farma menyematkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna merampingkan siklus produksi vaksin polio.
Algoritma AI ini juga memandu para ilmuwan menganalisis serta menyeleksi kandidat vaksin mutakhir berbasis DNA dan mRNA dengan presisi tinggi.
Langkah terobosan tersebut memangkas belanja modal riset sekaligus mengamankan kemandirian teknologi kesehatan masa depan Indonesia.
Baca Juga: Borong Dua Penghargaan Nasional, Bio Farma Unjuk Gigi di Sektor Komunikasi dan CSR
Teknologi Imersif dan Prospek Ekspansi Pasar Global
Peningkatan kapabilitas sumber daya manusia turut mengadopsi perangkat Virtual Reality (VR) melalui platform simulasi digital interaktif.
Metode imersif ini mematangkan kecakapan operasional personel laboratorium farmasi sesuai standar ketat internasional tanpa risiko kontaminasi langsung.
Digitalisasi komprehensif ini menghasilkan efisiensi proses kerja, konsistensi pengendalian mutu, dan perlindungan aset biologis bernilai tinggi.
Baca Juga: Diplomasi Vaksin di Islamabad: Upaya Bio Farma Memutus Ketergantungan Impor Negara Muslim
Keandalan ekosistem manufaktur ini memperluas jejak penetrasi Bio Farma yang kini telah mengekspor vaksin polio ke lebih dari 150 negara.
Reputasi kelas dunia tersebut mengokohkan kemitraan strategis jangka panjang bersama UNICEF dalam menyuplai imunisasi global.
Keberhasilan komersial ini membuktikan bahwa riset farmasi berbasis sains memberikan imbal hasil nyata bagi ketahanan ekonomi dan kesehatan publik.
Bio Farma memanfaatkan momentum DTIIF 2026 untuk mengundang lebih banyak pendanaan serta sinergi korporasi multinasional ke dalam proyek-proyek inovasi masa depan.
Baca Juga: Suntikan Mudik Gratis ala Bio Farma, Ringankan Beban Pemudik Lebaran 2026
“Saya berharap, forum tersebut dapat memperluas peluang kerja sama dengan berbagai mitra strategis, termasuk perusahaan riset dan pihak yang memiliki kapasitas dalam pengembangan teknologi,” tutup Shadiq.
Transformasi menyeluruh ini menegaskan komitmen Bio Farma dalam merealisasikan semangat “Advancing Hope, Shaping The Future”.
Melalui perpaduan sains presisi, efisiensi operasional, dan kepastian investasi, Bio Farma menghadirkan proteksi kesehatan optimal guna menunjang produktivitas gaya hidup masyarakat urban masa kini.




