URBANCITY.CO.ID – Ekosistem ekonomi kreatif kini merambah institusi pendidikan berbasis komunitas dan pesantren sebagai motor baru pertumbuhan pasar riil.
Melalui ajang Mandaya Awards 2026 inisiasi Kemenko PM, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggenjot komersialisasi potensi kreatif santri dan Sekolah Rakyat agar menghasilkan nilai ekonomi terukur serta membuka ruang investasi berkelanjutan bagi para pelaku usaha urban.
Laporan dua tahun Kemenko PM mencatat lonjakan kapasitas lebih dari 12 juta pegiat ekonomi kreatif, koperasi, pekerja migran, dan pelaku UMKM secara nasional.
Capaian masif ini mempertegas pentingnya integrasi pembiayaan modern dan penetrasi pasar ritel agar unit bisnis mikro sanggup bertransformasi menjadi portofolio investasi yang menguntungkan.
Baca Juga: Menteri Ekraf dan ICCN Pacu Investasi Kreatif Daerah Menuju Pasar Global
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari ketergantungan bantuan menjadi kemandirian ekonomi bernilai tambah tinggi saat membuka perhelatan tersebut.
“Transformasi harus kita jalani bersama. Dari negara yang biasanya hanya memberi bantuan, termasuk bantuan sosial, yang membawa bangsa kita sebagai penerima manfaat. Kita ingin mendorong transformasi menjadi negara yang memberdayakan. Tentu kita akan bersama memahami tiga transformasi sekaligus seperti transformasi cara pandang, transformasi cara kerja, dan transformasi jangkauan,” ungkap Menko PM saat memberi sambutan di Mandaya Awards 2026 di Ballroom Plaza Jamsostek, Selasa (27/10).
Menko PM mengajak para investor, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan untuk memperluas skala bisnis model pemberdayaan lokal ke ranah komersial yang lebih luas.
Replikasi model bisnis unggulan dari daerah terbukti mampu membuka rantai pasok baru yang menguntungkan ekosistem gaya hidup perkotaan.
Baca Juga: Investasi Talenta Suara WCCE 2026 Buka Peluang Pasar Ekraf Global
Transformasi Pesantren Jadi Motor Ekonomi Baru
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya memproyeksikan potensi kreatif berbasis daerah sebagai pilar diversifikasi ekonomi baru di luar pasar kota-kota besar.
Kolaborasi lintas sektor menjamin setiap inovasi lokal memiliki daya saing pasar yang stabil dan berkelanjutan.
“Pegiat ekraf semakin berkembang tidak hanya di kota besar, tetapi juga di berbagai desa dan kecamatan, dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki talenta dan potensi yang perlu terus diperkuat melalui pelatihan, pendampingan, akses pembiayaan, serta perluasan pasar. Kami ingin memastikan pegiat ekraf daerah mampu naik kelas dan menjadi penggerak mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah,” ujar Menteri Ekraf.
Baca Juga: Investasi Ekraf Indonesia-Mozambik Buka Peluang Bisnis Global Baru
Pondok Pesantren As’adiyah Bangun Bisnis Mandiri
Pondok Pesantren As’adiyah asal Sengkang, Kabupaten Wajo, membuktikan kemandirian finansial dengan mengoperasikan berbagai unit usaha komersial yang mengadopsi tren konsumsi modern, mulai dari As’adiyah Mart, persewaan aula, jasa binatu, hingga Café Teras Santri.
“Untuk pendanaan, khususnya Pondok Pesantren As’adiyah, alhamdulillah kami mandiri. Modal awal berasal dari pondok pesantren atau pengurus pusat, kemudian dikelola untuk menjalankan unit usaha dan pengembangan berikutnya. Usaha pesantren turut melibatkan masyarakat sekitar melalui pembelian berbagai kebutuhan pangan, seperti minyak, sayur, telur, dan ikan dari pasar tradisional,” ucap Muhammad Yunus, perwakilan Pesantren As’adiyah.
Pondok modern ini juga melatih santri madrasah aliyah putri menguasai rantai produksi busana fesyen muslim melalui unit konveksi mandiri untuk merespons tingginya permintaan pasar modest wear perkotaan.
Baca Juga: WCCE 2026: Diplomasi Kuliner Nusantara Buka Peluang Investasi Ekraf
Pihak pesantren terus membuka peluang kemitraan pembiayaan strategis dan transfer keahlian desain industri kreatif agar lini bisnis fesyen mereka mampu menembus ritel modern.
Akselerasi Kolaborasi Lintas Sektor dan Kampus
Mandaya Awards 2026 memberi apresiasi bergengsi kepada korporasi perbankan, BUMN/BUMD, perusahaan INAMikro, lembaga filantropi, dan entitas Sekolah Rakyat yang sukses membangun ekosistem bisnis inklusif.
Program Innovilleague turut memacu para inovator kampus menghadirkan terobosan teknologi sosial yang menarik minat modal ventura.
Baca Juga: Kemitraan Ekraf dan Netflix Buka Potensi Cuan Sastra Masuk Sinema Global
Jajaran kementerian mendampingi agenda strategis ini guna mempercepat sinergi regulasi dan pembiayaan terpadu.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya hadir bersama Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fahmy Akmal, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, serta para wakil menteri lintas portofolio untuk mengawal integrasi ekosistem wirausaha daerah ke pasar nasional.




