URBANCITY.CO.ID – Transformasi digital kini merambah kultur pesantren modern untuk melipatgandakan nilai ekonomi santri di tengah kompetisi industri kreatif urban.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (KemenEkraf) bersama Shopee Indonesia meluncurkan program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Sabtu (31/10).
Kolaborasi strategis ini melatih 200 santri dari 22 pondok pesantren se-Solo Raya agar menguasai keterampilan monetisasi digital dan mengubah modal kultural menjadi komoditas pasar berkelanjutan.
Langkah akselerasi ini memandang komunitas santri sebagai aset investasi sumber daya manusia yang sangat bernilai tinggi bagi pasar nasional.
Baca Juga: Kemenekraf Gandeng Jepang Buka Peluang Investasi IP dan Pasar Global
Potensi demografis pesantren menyimpan daya beli dan kapasitas produksi lokal yang siap terhubung langsung dengan rantai pasok digital kota-kota besar.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa potensi 42 ribu pesantren dan hampir lima juta santri di Indonesia merupakan modal fundamental dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
“Kreativitas para santri di pesantren sebenarnya tumbuh luar biasa. Pesantren memiliki akar budaya yang kuat berkaitan dengan sejarah daerahnya. Ketika kekuatan budaya tersebut disentuh dengan inovasi, teknologi, dan kreativitas, akan memberikan nilai ekonomi. Didukung dengan kedisiplinan yang ditanamkan dan keilmuan yang dijalankan sebetulnya platform digital juga bisa digunakan sebagai dakwah,” ujar Menteri Ekraf di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah pada Sabtu (31/10).
Monetisasi Konten dan Investasi Nilai Tambah Pesantren
Baca Juga: Kemenekraf Tegaskan Aturan NIB bagi Konten Kreator, Hanya untuk Usaha Profesional
Model bisnis kreatif membuka peluang diversifikasi pendapatan pesantren melalui subsektor bernilai ekonomi tinggi seperti fesyen modest, komik, kuliner, dan merchandise.
Santri kini bertindak aktif sebagai afiliator sekaligus pemilik jenama lokal yang siap merebut pangsa pasar gaya hidup halal perkotaan.
“Kami ingin kemampuan santri sebagai kreator konten dan afiliator juga dapat membantu mengakselerasi produk-produk kreatif pesantren, baik fesyen, kuliner, modest fashion, maupun hasil kreativitas lainnya sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Maka, pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan pembentukan komunitas alumni Santri Matic yang dapat terus berkembang,” jelas Menteri Ekraf.
Dukungan infrastruktur edukasi digital turut menjamin kesinambungan ekosistem wirausaha pesantren agar mampu menembus skala ritel modern.
Baca Juga: Gandeng Kemenekraf, Aplikasi Tentang Anak Siap Bawa Animasi Lokal Go International
Pemanfaatan kurikulum praktis memfasilitasi santri memahami metrik performa bisnis, efisiensi rantai pasok, dan manajemen promosi digital.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin memperluas akses serta literasi digital yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk para santri. Kami juga memiliki Kampus UMKM Shopee yang menyediakan kelas daring secara gratis dengan berbagai materi, mulai dari optimalisasi iklan, strategi mengikuti kampanye, hingga pengelolaan operasional usaha. Harapannya, pembelajaran ini dapat terus dimanfaatkan para santri untuk mengembangkan kemampuan dan usahanya,” ujar Balques.
Santri Siap Jadi Pemilik Bisnis Bukan Sekadar Penjual
Pemerintah Kota Surakarta mendorong santri menguasai kontrol rantai nilai produk dari hulu hingga hilir secara mandiri.
Baca Juga: Kemenekraf Gandeng AsiaBerlin, Buka Jalan Talenta Kreatif Lokal ke Pasar Eropa
Langkah mandiri ini memutus ketergantungan perantara sekaligus memaksimalkan margin keuntungan langsung bagi pengembangan komunitas pesantren.
“Santri jangan hanya menjadi reseller dari produk-produk ekonomi kreatif. Santri harus menjadi kreator produk ekonomi kreatif. Kami juga memiliki Program Santri Next Level untuk meningkatkan nilai tambah santri sehingga mereka tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga mampu menjadi kreator dan membangun model bisnisnya sendiri,” tegas Respati Achmad.
Peserta menyerap keahlian teknis pemanfaatan Shopee Marketplace, live commerce, ShopeeFood, hingga Shopee Affiliate Program bersama mentor industri dan kreator golden tick Salmah Haddad.
Kurikulum terapan ini mendorong para santri mengadopsi gaya kerja digital nomad yang fleksibel, mandiri, dan berorientasi profit.
Baca Juga: Kemenekraf Dukung Inkverse Fest 2026, Angkat Seni Body Art Jadi Kekayaan Intelektual Nasional
Pendekatan praktis program turunan Generasi Melek Teknologi (Gen Matic) ini terbukti membuka keran passive income nyata bagi para santri pengajar di daerah penyangga.
Kehadiran komunitas kreator santri mempercepat perputaran uang lokal dan mengikis kesenjangan literasi komersial antara santri dan pelaku pasar perkotaan.
“Alhamdulillah, selama empat bulan menjadi afiliator, hasilnya cukup untuk menjadi penghasilan tambahan di luar gaji. Pelatihan hari ini juga keren karena banyak insight yang didapatkan. Apalagi kami bisa bertemu langsung dengan kreator konten, affiliator, dan belajar cara mereka bekerja secara digital atau sesuatu yang biasanya hanya kami lihat melalui media sosial,” tutur Risyam.
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Daya Saing Global
Baca Juga: Komersialisasi IP Lokal, Kemenekraf Siapkan Ruang Showcase Lintas Platform
Sinergi pemerintah, korporasi teknologi, dan otoritas pesantren membentuk fondasi kokoh bagi lahirnya wirausahawan syariah generasi baru.
Jaringan alumni Santri Matic akan menerima pendampingan berkesinambungan untuk memastikan unit bisnis lokal mampu bersaing di pasar daring regional maupun global.
Kegiatan strategis ini dihadiri jajaran pimpinan kementerian, pemerintah daerah, tokoh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), serta ratusan santri perwakilan Solo Raya.
Kolaborasi terpadu ini menandai babak baru integrasi ekonomi syariah pesantren ke dalam arus utama gaya hidup dan industri digital modern.




