URBANCITY.CO.ID – Ekosistem usaha mikro di kawasan penyangga perkotaan kini menyambut instrumen permodalan baru yang jauh lebih ramah arus kas.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM resmi menyepakati Perjanjian Kerja Sama Pembiayaan (PKP) Skema Subsidi Bunga/Subsidi Margin Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS).
Inisiatif ini membuka peluang investasi produktif yang menjanjikan bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro guna memperkuat ketahanan finansial keluarga urban modern.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan skema KPPS menghadirkan solusi konkret dalam menekan biaya permodalan kerja yang selama ini membebani pelaku usaha pemula.
Baca Juga:Â Kolaborasi 6 Wamen Perempuan di WCCE 2026 Pacu Investasi Ekonomi Kreatif
“Ide ini diinisiasi langsung oleh Presiden Prabowo. Tujuannya untuk membuka akses pembiayaan produktif bagi perempuan prasejahtera. Melalui skema ini, pembiayaan usaha menjadi semakin terjangkau karena mendapatkan subsidi bunga dari pemerintah,” ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam sambutannya di Jakarta, Rabu (4/11).
Subsidi Rp2,62 Triliun Amankan Arus Kas Pelaku Usaha Mikro
Pemerintah menetapkan tingkat suku bunga pembiayaan KPPS sebesar 8 persen flat per tahun untuk menjaga stabilitas margin usaha nasabah.
Kesiapan anggaran subsidi bunga sebesar Rp2,62 triliun pada tahun anggaran 2026 memastikan keberlanjutan ekspansi usaha produktif ini di berbagai sentra ekonomi.
Baca Juga:Â Wamen Ekraf Irene Umar: Perempuan Pimpin 60 Persen Sektor Ekonomi Kreatif
Pelaku usaha mendapatkan keuntungan ganda melalui efisiensi beban cicilan sekaligus akses pendanaan formal yang terukur.
Keberhasilan investasi mikro ini bertumpu pada pendampingan bisnis secara intensif dan berkelanjutan di lapangan.
Kementerian UMKM mewajibkan lembaga penyalur melaksanakan kunjungan berkala minimal dua minggu sekali, memberikan pelatihan literasi finansial, serta memantau perkembangan portofolio usaha nasabah.
“Kementerian UMKM akan terus mengawal agar program ini tepat sasaran sehingga manfaatnya dirasakan perempuan prasejahtera di seluruh Indonesia. Karena itu, saya meminta PNM menjalankan seluruh kewajibannya sebagai bagian penting dari pelaksanaan Program KPPS,” kata Maman.
Baca Juga:Â OJK dan Komdigi Pacu Peran Perempuan dalam Ekonomi Nasional
PNM Siap Salurkan Modal Produktif untuk 1,7 Juta Pelaku Usaha
Direktur Utama PNM Kindaris menegaskan komitmen korporasi dalam menciptakan nilai tambah ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat prasejahtera.
“Melalui KPPS, kami ingin memastikan semakin banyak perempuan memperoleh akses pembiayaan dan pendampingan yang dibutuhkan untuk tumbuh. Setiap pembiayaan bukan sekadar modal usaha, melainkan juga kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.
PNM menargetkan penyaluran modal kerja strategis ini kepada 1,7 juta debitur aktif hingga akhir 2026. Integrasi sistem secara host-to-host melalui Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan mempercepat realisasi penyaluran perdana mulai 9 November 2026.
Baca Juga:Â Wamendag Dyah Roro Esti: Perempuan Berdaya Kunci Penguatan Ekonomi Nasional
Seluruh kriteria penerima manfaat mengikuti parameter ketat agar alokasi modal tepat sasaran dan berdampak langsung pada daya beli komunitas.
Jaringan operasional PNM yang menjangkau pelosok sub-urban mempercepat eskalasi skala usaha para nasabah binaan.
Sinergi ini memastikan peningkatan kapasitas manajemen keuangan rumah tangga berjalan seiring dengan pertumbuhan omzet harian.
“Upaya ini juga dilengkapi pendampingan usaha, literasi keuangan, serta peningkatan kapasitas agar nasabah tidak hanya memperoleh akses modal, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola usahanya secara berkelanjutan,” tambah Kindaris.
Baca Juga:Â Wamen Ekraf Irene Umar: Perempuan Adalah Penggerak Utama Mesin Baru Ekonomi Kreatif Nasional
Langkah terpadu Kementerian UMKM dan PNM ini mengubah paradigma pembiayaan dari sekadar bantuan sosial menjadi investasi ekonomi produktif.
Perempuan pengusaha mikro kini memegang kendali penuh atas pertumbuhan bisnis mereka, memicu perputaran roda ekonomi akar rumput yang kian tangguh.




