Tren positif ini pun terus berlanjut. Pada triwulan I-2026, nilai ekspor kembali merangkak naik 2,52 persen menjadi USD15,64 miliar.
Sejauh ini, kelapa sawit dan turunannya masih menjadi komoditas primadona dengan sumbangan USD34,16 miliar, disusul oleh lini fesyen Muslim (USD8,67 miliar) serta bahan kimia kosmetik halal (USD5,46 miliar).
Negara-negara raksasa pun menjadi tujuan utama aliran produk ini, dengan Tiongkok sebagai pasar terbesar senilai USD10,73 miliar, diikuti Amerika Serikat (USD10,16 miliar), India (USD5,07 miliar), dan Malaysia (USD3,21 miliar).
Baca juga: Aturan Baru Barang Gunaan: Alat Makan Keramik IKM Wajib Bersertifikat Halal
“Meski neraca perdagangan produk halal kita sudah mencatatkan surplus yang positif, kami berharap capaian ekspor tersebut dapat terus meningkat sehingga produk halal Indonesia makin mendominasi pasar global,” imbuh Wamendag Roro.
Inisiatif Taktis untuk Naik Kelas
Guna menyokong para pelaku usaha, Kemendag telah menyiapkan berbagai “senjata” fasilitas. Salah satunya melalui program “UMKM BISA Ekspor” yang sepanjang Januari–April 2026 telah mempertemukan ratusan pengusaha lokal dengan pembeli internasional, hingga sukses mencetak total capaian transaksi sebesar USD107,34 juta.
Selain itu, para pebisnis didorong memanfaatkan etalase digital Inaexport serta meminta pendampingan gratis di Export Center yang kini sudah beroperasi di Surabaya, Makassar, Batam, dan Balikpapan.
Puncaknya, Wamendag Roro mengajak para produsen untuk unjuk gigi pada pameran dagang terbesar, Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, yang akan digelar pada 14–18 Oktober mendatang.
