Komplotan penipu biasanya memanipulasi kepanikan korban dengan skenario pembekuan akun sepihak agar mereka bersedia menyerahkan sandi utama.
Begitu nasabah lengah dan membocorkan rangkaian nomor rahasia tersebut, pelaku langsung mengambil alih kendali rekening untuk menguras habis dana operasional perusahaan korban.
“Tolak dengan tegas atau segera akhiri percakapan apabila terdapat pihak yang meminta ID Perusahaan, ID Pengguna, dan nama perusahaan dengan alasan verifikasi.
Baca juga:Â Hari Lingkungan Hidup 2026, BNI Targetkan Net Zero Emissions Operasional di 2028
Perlu diingat bahwa jika data tersebut diberikan, pelaku kejahatan dapat dengan mudah membobol akun BNIdirect cash dan BNIdirect bisnis,” kata Okki memberikan instruksi penyelamatan.
Memblokir Rayuan Aplikasi Kendali Jarak Jauh
Manajemen BNI juga mengendus siasat licik lain berupa perintah pengunduhan perangkat lunak tertentu ke dalam komputer jinjing nasabah.
Okki membongkar bahwa aplikasi mencurigakan tersebut biasanya merupakan software remote desktop yang dapat memberikan hak akses penuh bagi peretas untuk mengontrol komputer korban dari jarak jauh.
Pelaku penipuan juga kerap melancarkan intimidasi psikologis dengan mengancam bahwa sistem pembayaran perusahaan akan hangus jika nasabah menolak mematuhi instruksi dalam hitungan menit.
Menanggapi gertakan tersebut, BNI menyatakan dengan tegas bahwa institusinya tidak pernah mengeksekusi pemblokiran fasilitas perbankan via sambungan telepon seluler.
Okki mengimbau para bendahara perusahaan untuk tetap berkepala dingin saat menerima teror panggilan misterius.




