Sorotan Motif Finansial dan Manuver Regulasi
Di sisi lain, publik mulai mencurigai motif di balik seruan tersebut. Brian Roemmele menduga langkah ini berkaitan dengan agenda bisnis. Menurutnya, Anthropic sedang bersiap menggelar initial public offering (IPO). Melalui strategi ini, korporasi ingin mengunci reputasi sebagai entitas paling bertanggung jawab.
Senada dengan hal itu, David Sacks ikut melontarkan kritik tajam. Mantan penasihat Gedung Putih ini menyoroti ancaman jerat hukum perdata. Pasalnya, korporasi terancam bangkrut jika produk mereka memicu kekacauan siber massal. Maka dari itu, narasi moral tersebut dinilai tidak sepenuhnya murni.
Benturan Regulasi dan Rivalitas dengan China
Sementara itu, hambatan politik justru datang dari Washington. Presiden Donald Trump menepis peringatan bahaya para pemimpin industri. Bahkan, ia mencap mereka sebagai “kekuatan negatif”. Senada dengan Trump, Ketua DPR Mike Johnson turut menentang regulasi ketat. Sebab, kekangan aturan dinilai bisa mematikan daya saing nasional.
Akibatnya, posisi Amerika Serikat terancam dalam kompetisi melawan China. Amodei sendiri mengakui dilema berat tersebut. Pasalnya, Beijing terus memajukan model berbasis kode terbuka. Padahal, tipe sistem terbuka ini jauh lebih sulit diawasi oleh regulator.
Oleh karena itu, Amodei mendesak pengetatan ekspor semikonduktor mutakhir ke China. Selain itu, proteksi hak cipta Barat harus diperkuat secara ketat. Intinya, para bos teknologi tidak bermaksud mematikan inovasi AI. Namun, mereka ingin ritme riset disesuaikan dengan kemampuan manusia dalam mengendalikan risikonya.




