Menantang Rival Sengit dari Negeri Jiran
Perjalanan Raymond/Joaquin menuju podium kedua dilalui dengan memakan korban sejumlah pasangan unggulan dunia. Sepanjang turnamen, ganda putra non-unggulan ini memperlihatkan kematangan taktis dan ketenangan yang melampaui usia muda mereka.
Di partai final, Raymond/Joaquin harus bersua dengan musuh bebuyutan sekaligus unggulan ketujuh asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin.
Baca juga:Â Wondr by BNI Kepung Istora, Ubah Rantai Transaksi Kuliner di Indonesia Open 2026
Laga puncak ini sekaligus menjadi ajang pembuktian mental bagi wakil Indonesia. Berdasarkan catatan di atas kertas, kedua pasangan sejatinya memiliki rekor pertemuan yang berimbang, yakni sama-sama mengantongi satu kemenangan.
Namun, Istora tampaknya belum sepenuhnya berpihak pada Raymond/Joaquin. Mereka harus mengakui keunggulan ganda putra Negeri Jiran tersebut.
Kekalahan ini sekaligus mengulang memori kelam di tempat yang sama pada Januari lalu, di mana Raymond/Joaquin juga dipaksa takluk oleh lawan yang sama dalam ajang Indonesia Masters 2026.
Modal Berharga Menuju Panggung Elite Dunia
Kendati gagal mengunci status juara di kandang sendiri, daya juang yang diperlihatkan Raymond/Joaquin di lapangan mengundang apresiasi dari barisan manajemen sponsor.
Baca juga:Â Gandeng PBSI, BNI Jadikan Indonesia Open 2026 Kawah Candradimuka Atlet Muda
Berbekal usia yang masih relatif muda, jam terbang bertanding di partai krusial sekelas Super 1000 diklaim bakal melipatgandakan ketangguhan psikologis mereka di turnamen mendatang.




