Mereka memadukan tempe sebagai sumber protein nabati utama dengan kentang kleci sebagai pengganti karbohidrat olahan pada isi burger.
Dalam kurun waktu enam bulan sejak diluncurkan, Burger TemCi telah terjual lebih dari 700 porsi. Strategi pemasarannya pun cukup organik, mulai dari menitipkan produk di kantin kampus hingga sistem pesanan di muka (pre-order).
Dukungan Inkubasi Bisnis
Kegigihan tim ini membuahkan hasil berupa pendanaan melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) di UNS.
Tak hanya itu, mereka juga lolos seleksi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan terpilih mengikuti program Campuspreneur yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan.
Program Campuspreneur memberikan ruang bagi wirausaha muda seperti Dinda dan Anggita untuk menajamkan strategi pemasaran serta memperluas jejaring bisnis.
Baca Juga: Perangi Fast Fashion, Kementerian Ekraf dan Mahasiswa Gaungkan Fesyen Berkelanjutan
Bagi mereka, kompetisi dan pameran adalah sarana untuk memvalidasi ide dan mengukur respons pasar secara langsung.
“Harapannya, Burger TemCi bisa terus berjalan dan dikenal lebih luas. Melalui kegiatan Campuspreneur, kami juga bisa menambah jejaring dan bertemu dengan banyak wirausaha muda dari kampus lain yang usahanya keren-keren banget,” ungkap Anggita.
Burger TemCi menjadi bukti nyata bahwa bahan pangan tradisional dapat bertransformasi menjadi produk inovatif yang kompetitif.
Langkah ini diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi komoditas lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah. (*)






