URBANCITY.CO.ID – Orang tua di China kini menggandrungi tren baru untuk mengisi liburan musim panas anak-anak mereka. Jika sebelumnya kamp pelatihan fisik dan perjalanan safari ke Afrika menjadi favorit, dalam dua tahun terakhir kelas kecerdasan finansial (financial quotient atau FQ) justru menduduki posisi puncak kepopuleran.
Orang tua memilih program ini lantaran khawatir terhadap masa depan anak di tengah persaingan pasar kerja yang kian ketat. Melalui pelatihan khusus, peserta diharapkan tumbuh menjadi sosok yang terampil mengelola uang dan berjiwa wirausaha, hingga mendapat julukan calon “Warren Buffett kecil”.
Biaya Fantastis dan Materi Pelatihan
Melansir South China Morning Post, kamp FQ umumnya berlangsung selama 7 hingga 10 hari. Untuk mengikuti program ini, orang tua harus merogoh kocek tak sedikit, yakni mulai 12.800 yuan atau sekitar Rp 34 juta per anak.
Selama pelatihan, instruktur menyajikan simulasi pasar saham, pertemuan investor, hingga praktik jual-beli menggunakan token. Pada kamp lain, peserta diajak terjun ke lapangan untuk berjualan di pinggir jalan, menyusun rencana bisnis, hingga melakukan presentasi roadshow dalam bahasa Inggris.
Baca Juga : Menteri PKP Sebut BTN Sebagai Penyalur KPR Subsidi Terbanyak Hingga Juli 2026
Beberapa kamp bahkan menawarkan program lanjutan berbiaya lebih mahal yang mencakup pengembangan kepemimpinan dan kewirausahaan berbasis STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) dengan menghadirkan pakar keuangan.
Dorongan Ketatnya Pasar Kerja dan Pro-Kontra Orang Tua
Meningkatnya minat terhadap kamp FQ berbanding lurus dengan sulitnya mencari pekerjaan di China. Biro Statistik Nasional China mencatat tingkat pengangguran perkotaan mencapai 5 persen pada Juni 2026, sementara pengangguran usia muda (16-24 tahun) mendekati 15 persen.
Kondisi tersebut memicu reaksi beragam dari para orang tua. Sebagian menilai program ini memberi dampak positif terhadap motivasi belajar anak.
“Dia berubah cukup signifikan. Dulu, dia malas belajar. Sekarang dia punya tujuan yang jelas, yaitu menghasilkan uang. Saya melihat dia jauh lebih fokus mengerjakan tugas-tugasnya,” kata ibu bermarga Mei tersebut di media sosial.
Namun, tidak sedikit orang tua yang bersikap kritis. Sebagian khawatir anak-anak menjadi terlalu komersial dan selalu meminta imbalan uang atas prestasi maupun pekerjaan rumah. Orang tua lain menilai simulasi bisnis di kamp tersebut terlalu menyederhanakan realitas dunia usaha.
“Data di seluruh dunia menunjukkan bahwa 90 persen perusahaan rintisan gagal. Namun, dalam kelas FQ ini, anak-anak seolah-olah dapat dengan mudah belajar menghasilkan uang. Ini lebih seperti pertunjukan bisnis, bukan gambaran mengenai dunia usaha yang sebenarnya,” ujarnya.




