Salah satu caranya dengan pelibatan 90 persen talenta lokal serta 120 animator asal Surabaya.
Langkah strategis ini membuka lapangan kerja baru bagi para pendatang di industri film.
Bahkan, memastikan bahwa inovasi teknologi animasi dapat diterapkan dalam pengembangan karakter lokal.
Dengan fokus pada pengembangan IP, Foufo menjadi model bisnis film modern yang tidak hanya bergantung pada tiket bioskop.
Tetapi juga melalui produk merchandise dan aktivasi kreatif lainnya.
Menteri Ekraf menegaskan pentingnya hilirisasi budaya sebagai fondasi ekonomi kreatif nasional yang berkelanjutan.
Baca juga: Wamen Ekraf Irene Umar Ajak Anak Indonesia Berani Bermimpi lewat Film ‘Na Willa’
“Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi,” tegas Menteri Ekraf.
“Sehingga memberikan manfaat ekonomi. Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif,” imbuhnya.
Membangun Ekosistem Kreatif dari Daerah
Visi membangun ekonomi kreatif dari daerah kini bukan lagi sekadar wacana.
Melainkan kenyataan yang membuka peluang lebar bagi para pegiat seni untuk berkarya di panggung nasional.
Keberanian Foufo menggunakan bahasa daerah sebagai dialog utama justru menjadi daya tarik autentik,
Hal ini yang membedakan produk kreatif Indonesia di pasar yang semakin jenuh.
Sinergi antara sineas lokal menjadi bukti bahwa talenta daerah memiliki posisi tawar yang sama kuat dalam industri kreatif modern.




