Baca juga:Â Bikin Belajar Lebih Mudah, Pertamina Hadirkan Perpustakaan Digital PertaLibs
Mengubah Dokumen Menjadi Alarm
Melihat situasi yang kian kritis, Iriawan meminta seluruh lini bisnis di bawah naungan Pertamina Group untuk mengubah cara pandang dalam mengelola risiko.
Ia menggarisbawahi bahwa ancaman yang dihadapi perseroan saat ini sudah bermutasi dari sekadar hambatan operasional teknis di lapangan menjadi risiko finansial strategis dan risiko kebijakan.
Mantan Penjabat Gubernur Jawa Barat ini juga melayangkan otokritik tajam terkait tata kelola administrasi di lingkungan internal.
Ia memperingatkan agar dokumen penilaian risiko (risk assessment) yang disusun oleh manajemen tidak berakhir menjadi tumpukan kertas formalitas demi menggugurkan kewajiban birokrasi semata.
“Sistem tersebut harus bertransformasi menjadi sistem peringatan dini yang mampu memberikan visibilitas risiko terintegrasi bagi arah perusahaan, direksi dan komisaris dalam mengambil keputusan strategi demi menjaga keberlangsungan perusahaan serta ketahanan energi nasional,” tegas Iriawan di hadapan jajaran manajemen.
Baca juga:Â Pertamina Drilling dan Halliburton Kerja Sama, Bidik Proyek Energi Timur Tengah
Ketelitian dalam membaca peta risiko, mengeksekusi langkah mitigasi, serta kecepatan mengambil keputusan yang jitu akan menjadi penentu hidup-mati keberlangsungan bisnis Pertamina di masa depan.
Mengunci Sinergi, Melarang Produk Luar
Lebih jauh, Iriawan menyoroti penyakit menahun yang kerap menjangkiti korporasi besar: ego sektoral dan pola kerja silo (terkotak-kotak) di antara unit bisnis serta subholding.




