Namun, dalamnya kejatuhan pasar domestik mengindikasikan struktur pasar keuangan kita yang masih sangat dangkal dan terlampau bergantung pada modal asing.
Efek Domino Indeks MSCI: Kebijakan rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 menjadi pukulan telak. Didepaknya sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) milik Indonesia memicu penarikan dana asing (capital outflow) dalam skala masif.
Baca Juga:Â IHSG Maret 2026 Terkoreksi, OJK Catat Jumlah Investor Tembus 24,74 Juta Orang
“MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi biaya modal, likuiditas, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global,” urai Kusfiardi.
Saham Lebih Babak Belur: Angka depresiasi tidak seimbang. Rupiah “hanya” melemah sekitar 10 persen sejak awal tahun, namun IHSG rontok mendekati 30 persen. Selisih ini menandakan investor sedang melakukan hitung ulang (repricing) risiko berinvestasi di Indonesia.
Penyangga Domestik Masih Mini: Meski investor lokal sempat menahan tekanan jual asing di akhir Mei, kapasitas modal institusional dalam negeri terbukti belum cukup kuat menjadi benteng utama penahan guncangan global.
Kusfiardi menilai tantangan terbesar saat ini berada pada aspek kepercayaan publik, bukan sekadar urusan angka semata.
“Pasar tidak hanya sedang menguji angka IHSG atau nilai tukar. Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan dan kapasitas negara dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Selama kepercayaan itu belum pulih, volatilitas masih akan tetap tinggi,” urainya.




