Baca juga:Â Menteri Keuangan Yakin IHSG Tidak Akan Turun Drastis Saat Pembukaan Senin
Narasi Kebijakan vs Realitas Pasar
Melihat kondisi tersebut, FINE Institute meminta masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak mentah-mentah menelan proyeksi optimistis pemerintah yang menyebut rupiah akan kembali ke level Rp15.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Secara teori, penguatan itu bisa saja terjadi jika ada pembalikan modal asing dan lonjakan devisa hasil ekspor. Namun realitasnya, sentimen pasar saat ini belum melihat adanya pondasi fundamental yang kuat untuk menyokong pemulihan seagresif itu.
“Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama arus modal asing masih keluar, risiko kebijakan masih tinggi, dan struktur pasar domestik belum cukup kuat, maka ekspektasi penguatan rupiah yang terlalu agresif berpotensi menciptakan jarak antara narasi kebijakan dan realitas pasar,” tandas Kusfiardi.
Sebagai penutup, FINE Institute merekomendasikan pemerintah untuk segera mengesekusi reformasi struktural.
Langkah mendesak yang harus diambil adalah memperdalam pasar keuangan, memperbesar porsi saham publik (free float), memperkuat basis investor institusi lokal, serta membenahi tata kelola pasar agar Indonesia tidak terus-menerus mendiktekan nasibnya pada sentimen modal asing. (*)




