Berbagai kerja sama konkret pun mulai terbentuk, seperti kolaborasi PT PAL Indonesia dengan Rosato serta penjajakan kemitraan antara Pupuk Indonesia dengan Uralchem.
Inisiatif ini menandai langkah nyata Indonesia dalam memperkuat rantai pasok industri di kawasan Eurasia.
Target Kerja Sama Jangka Panjang
Tri Supondy, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional, menegaskan bahwa kehadiran Indonesia bukan sekadar ajang perkenalan.
Indonesia menjadikan INNOPROM 2026 sebagai batu loncatan bagi kolaborasi jangka panjang dengan para mitra strategis di Eurasia.
Target utama pemerintah meliputi peningkatan kolaborasi joint manufacturing serta perluasan akses pasar produk manufaktur Indonesia ke skala internasional.
Baca juga:Â Akselerasi Digital Sektor Manufaktur, Kemenperin Pacu Industri 4.0 di Dua Perusahaan
“Kami tidak datang ke Ekaterinburg hanya untuk memperkenalkan diri, dengan fondasi hubungan bilateral yang terlah terjalin kuat, Indonesia menargetkan INNOPROM 2026 sebagai titik awal kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan mitra Eurasia”, ujar Tri Supondy.
Sebagai negara yang mengikuti jejak Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, Indonesia kini mempertegas posisinya sebagai mitra industri strategis di dunia.
Ajang INNOPROM 2026 dipastikan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan investasi industri nasional di masa depan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan efek domino positif bagi kemajuan ekonomi dan teknologi industri Indonesia. (*)




