Baca Juga:Â Rial Iran Jatuh Drastis, Hanya Rp 0,01 Akibat Sanksi dan Inflasi
Di sisi lain, beberapa bahan pangan lain seperti minyak goreng, tomat, dan beras masih mencatatkan kenaikan harga tipis.
Inflasi Inti dan Komponen Harga Bergejolak
Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat sebesar 0,23 persen yang didorong oleh konsumsi barang elektronik seperti ponsel dan laptop, serta makanan siap saji.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) membengkak 0,69 persen akibat penyesuaian tarif energi dan rokok.
Namun, komponen harga bergejolak (volatile foods) mengalami deflasi cukup dalam sebesar 0,88 persen. Melimpahnya pasokan cabai dan ayam di tingkat peternak menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas IHK secara agregat.
Baca Juga:Â Harga Pangan Dorong Inflasi Jakarta Capai 0,33% di Desember 2025
Ketimpangan Inflasi Antardaerah
Secara spasial, 30 provinsi di Indonesia masih mengalami kenaikan harga, sementara 8 provinsi lainnya menikmati deflasi.
Papua Barat tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi mencapai 2,00 persen, kontras dengan Maluku yang mengalami deflasi terdalam sebesar 0,17 persen. Secara keseluruhan, inflasi tahun kalender hingga April 2026 berada pada posisi 1,06 persen.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan pada biaya transportasi dan barang pabrikan, stabilitas harga pangan segar tetap menjadi tumpuan utama pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di kuartal kedua tahun ini. (*)






