Pembenahan ruang kelas yang rusak berat dan sedang membutuhkan alokasi tepat sasaran untuk memotong kesenjangan layanan pendidikan.
“Di balik angka-angka tersebut ada jutaan anak yang menanti ruang belajar yang aman, nyaman, sekaligus layak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di SLB,” kata Dirjen Tatang.
Baca Juga: Kementerian Ekraf dan Kemendikdasmen Garap Modul SMK, Targetkan Serap 27 Juta Pekerja Kreatif
Program modernisasi satuan pendidikan ini menginduk pada Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto serta implementasi prioritas Asta Cita keempat.
Pemerintah langsung menyalurkan anggaran ke rekening sekolah melalui skema swakelola, sehingga menghidupkan perputaran ekonomi lokal lewat pelibatan material sekitar dan pemberdayaan tenaga kerja setempat.
Pengawasan ketat melibatkan Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan untuk menjaga tata kelola anggaran, akuntabilitas, serta kepatuhan perpajakan.
Langkah mitigasi ini menjamin setiap rupiah bantuan benar-benar terkonversi menjadi infrastruktur fungsional yang bebas penyelewengan.
Baca Juga: Investasi Literasi Anak Perkuat Ekonomi Kreatif, Karya Raya 2026 Cetak Rekor Buku
Desain Ramah Aksesibilitas Topang Gaya Hidup Mandiri Siswa
Kebutuhan fisik SLB menuntut kecermatan arsitektur dan kestabilan utilitas modern agar proses terapi serta belajar berlangsung maksimal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SLBN Surade, Rhadeya Phawitra, memaparkan kebutuhan ruang serbaguna, sarana UKS terintegrasi, serta ruang vokasi keterampilan di sekolahnya.




