Hapus Bias Daging Sapi Demi Produktivitas Masa Depan
Baca Juga:Â BNI Perkuat Kesehatan Masyarakat Pangalengan Lewat Program Desa Sehat Bebas Stunting
Kenaikan biaya hidup di wilayah perkotaan menuntut pergeseran paradigma dalam memandang menu makanan hewani.
Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, I Dewa Gede Karma Wisana, menyoroti hambatan psikologis berupa “bias daging sapi” yang masih membebani keputusan belanja masyarakat urban.
“Kalau bayangan dapat protein yang mahal itu lebih karena sebenarnya bias dengan daging sapi. Padahal kalau kita lihat, kita sebenarnya bisa memiliki telur dan susu lebih banyak dibanding daging sapi. Telur dan ikan kembung itu protein yang sebenarnya sangat terjangkau,” tutur Dewa.
Kenaikan tarif transportasi dan biaya operasional perkotaan sering kali mendorong keluarga mengorbankan kualitas konsumsi pangan harian.
Baca Juga:Â Peduli Kesehatan Masyarakat, BCA Syariah dan Kejari Bireuen Sumbang Kantong Darah
Padahal, defisit nutrisi mikro jangka panjang berpotensi menggerus daya saing generasi penerus dalam menghadapi bursa kerja profesional 10 hingga 20 tahun ke depan.
“Jadi kita nggak melulu berkutat dengan daging mahal sehingga kita berhenti mengalokasikan (untuk) protein, padahal pilihannya tadi banyak. Ada ikan, telur, susu,” tegas Dewa.
Strategi Alokasi Finansial Rumah Tangga Urban
Membangun pola makan bergizi tinggi sejatinya hanya membutuhkan penyesuaian arus kas mikro yang disiplin.
Baca Juga:Â OJK Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan Nasional
Mengalihkan sedikit anggaran konsumtif dari kebiasaan jajan kopi kekinian atau kudapan luar ruangan ke belanja bahan segar pasar tradisional terbukti menghasilkan lonjakan nilai gizi harian yang signifikan.
“Contohnya, di sini kalau kita bisa kurangin 10 persen, itu 50 ribu per bulan, kita bisa dapet tambahan sekitar 6 gram protein per hari,” ujar Dewa.
Langkah realokasi bujet sederhana sebesar Rp50.000 per bulan ini secara konsisten menambah 6 gram protein harian bagi setiap anggota keluarga.
Pada akhirnya, kecerdasan memilih ikan kembung mencerminkan kedewasaan gaya hidup urban yang memprioritaskan efisiensi anggaran, kebugaran optimal, dan prospek masa depan yang berkelanjutan.




