URBANCITY.CO.ID – Militer Israel menghadapi krisis serius berupa kekurangan personel cadangan serta peralatan tempur. Kondisi ini muncul akibat intensitas agresi di Jalur Gaza, Lebanon, serta konflik berkepanjangan dengan Iran.
Radio Angkatan Darat Israel pada Selasa, 14 Juli 2026, melaporkan militer mengalami defisit personel cadangan dan tank siap tempur. Kondisi di lapangan tidak sesuai dengan narasi yang beredar.
“Unit cadangan saat ini kosong. Sebuah batalion bukanlah batalion penuh, dan sebuah kompi bukanlah kompi yang sebenarnya,” kata komandan cadangan dalam laporan itu, dikutip Middle East Monitor.
Ia menjelaskan masyarakat dan pengambil keputusan sering mendengar kabar pengerahan brigade penuh di Lebanon. Namun, jumlah riil di lapangan jauh dari harapan.
Baca Juga : Diplomasi Kilat Kemlu: Israel Bebaskan 9 WNI Relawan Gaza GSF 2.0
“Pada kenyataannya, formasi yang ada jauh lebih kecil. Jumlah tentara, tank, dan kendaraan jauh lebih sedikit,” ujar komandan itu.
Kondisi Unit yang Runtuh
Sang komandan menyebut beberapa formasi cadangan berada dalam kondisi runtuh secara efektif. Meski setiap prajurit berusaha memberikan performa terbaik, beban operasional dalam kondisi tersebut terasa sangat berat.
“Ada unit yang kondisinya lebih baik dan ada pula yang kondisinya lebih buruk. Semua orang melakukan yang terbaik, tetapi sulit untuk terus beroperasi dalam keadaan seperti ini,” kata dia.
Laporan tersebut mengungkap bahwa brigade dan batalion cadangan beroperasi di bawah kekuatan standar. Militer tidak lagi memiliki cukup tank siap tempur karena banyak armada mengalami kerusakan selama pertempuran. Akibatnya, kompi lapis baja cadangan terpaksa beroperasi dengan jumlah tank terbatas.
Radio Angkatan Darat juga mencatat satu kompi cadangan baru saja menyelesaikan “misi operasional” di Lebanon dengan hanya menyisakan satu perwira. Unit itu bahkan tidak memiliki komandan kompi, bintara senior, maupun rantai komando yang berfungsi.




