Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd., Wan Yiming, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk menjawab tantangan efisiensi pada sektor manufaktur.
Baca Juga: Segera Daftar! Penghargaan RINTEK 2026 Kemenperin Dibuka Hingga 29 Mei
“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen dibandingkan metode konvensional,” ungkap Wan Yiming.
Selain hemat biaya, penggunaan sistem prefabrikasi membuat fasilitas ini dapat beroperasi empat kali lebih cepat dari pembangunan fasilitas pengolahan air biasa.
Implementasi di Lima Kawasan Industri
Sebagai tahap awal, proyek percontohan ini akan diterapkan di lima kawasan industri di Indonesia. Proses implementasi ditargetkan berjalan selama enam bulan ke depan dengan periode operasional hingga tiga tahun.
Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyambut positif langkah ini. Menurutnya, penerapan teknologi modern akan meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia di mata global, terutama dalam memenuhi standar keberlanjutan lingkungan yang semakin ketat.
Baca Juga: Hilirisasi Buah Tropis, Kemenperin Dorong IKM Olah Komoditas Unggulan Jadi Produk Ekspor
Kemenperin berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada proyek percontohan, tetapi juga mendorong investasi jangka panjang dan transfer teknologi bagi sumber daya manusia di tanah air. (*)






