Karena itu, pemerintah menjalankan pembenahan secara menyeluruh mulai dari aspek kuantitas produksi hingga pengembangan kapasitas pabrik.
Baca juga: Kemenperin Gandeng UNIDO, Bangun Eco-Industrial Park Center untuk Genjot Industri Hijau
Sinergi yang solid akan membantu para peternak lokal menghasilkan produk susu segar dengan standar kualitas tinggi.
Saat ini, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah karena hanya menyentuh angka 17,7 liter per kapita per tahun.
Minimnya angka konsumsi tersebut justru membuka peluang pasar yang sangat luas bagi para pelaku usaha pengolahan susu ke depan.
Pemerintah optimistis kehadiran berbagai program baru berskala nasional akan memicu lonjakan permintaan produk susu secara signifikan.
“With the government program oriented towards improving public nutrition, such as the Free Nutritious Meal (MBG) Program, it becomes an opportunity to spur an increase in national milk consumption,” jelas Putu.
Baca juga: Kemenperin Masukkan Ratusan IKM Otomotif ke Rantai Pasok Pabrik Kendaraan Listrik
Di sisi lain, para pelaku industri pengolahan susu nasional masih harus melewati sejumlah hambatan operasional di lapangan.
Keterbatasan integrasi hulu-hilir, skala usaha peternak yang mini, serta rendahnya produktivitas ternak menjadi pekerjaan rumah yang berat.
Pelaku usaha juga kerap mengeluhkan keterbatasan infrastruktur rantai dingin (cold chain) dan sistem logistik yang belum merata.
Dorong Adopsi Teknologi Digital
Pihak Kemenperin merespons tantangan tersebut dengan mendorong adopsi teknologi digital pada setiap Tempat Penampungan Susu (TPS) milik mitra.




