Baca Juga: BNI Tuntaskan Pengembalian Dana Rp28,2 Miliar ke CU Paroki Aek Nabara
Dominasi Dana Murah dan Efisiensi
Dari sisi finansial, fundamental BNI semakin kokoh berkat struktur dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang solid. Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan CASA perseroan melonjak 26,6 persen menjadi Rp731,6 triliun.
Pencapaian ini didongkrak oleh performa platform digital wondr by BNI yang telah menembus 13 juta pengguna, serta layanan BNIdirect untuk segmen korporasi.
Efeknya, pangsa pasar CASA BNI terkerek menjadi 11,3 persen, yang secara langsung menekan biaya dana (cost of funds).
“Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” tutur Paolo.
Kualitas Aset dan Kepercayaan Global
Baca Juga: BNI Tutup Layanan Internet Banking Mulai 21 April 2026, Nasabah Diminta Migrasi
Meski ekspansif, BNI tetap menjaga kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang membaik di level 1,9 persen.
Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) tercatat mencapai Rp9,3 triliun, angka tertinggi untuk periode kuartal pertama dalam sejarah perseroan.
Kepercayaan pasar internasional terhadap BNI juga terbukti melalui penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai USD700 juta atau sekitar Rp11,9 triliun pada April 2026.
Aksi korporasi ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 3,6 kali, mencapai USD2,5 miliar. Suntikan modal segar ini memastikan BNI memiliki napas panjang untuk terus melakukan ekspansi bisnis yang sehat dan berkelanjutan di masa depan. (*)






