Strategi value for money membuat konsumen tidak hanya membandingkan BYD dengan sesama mobil listrik. Mereka juga mulai membandingkannya dengan mobil bermesin bensin maupun hybrid.
Inilah salah satu perubahan penting dalam persaingan otomotif nasional. Mobil listrik mulai dipandang bukan hanya sebagai pilihan kendaraan premium, tetapi sebagai alternatif kendaraan harian yang secara ekonomi semakin masuk akal.
4. Produksi Lokal Memperkuat Strategi Jangka Panjang
BYD juga memahami bahwa pasar Indonesia tidak cukup dimenangkan hanya melalui impor.
Perusahaan membangun fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat. Pada April 2026, Dewan Pertahanan Nasional menyebut pembangunan fasilitas tersebut telah mencapai sekitar 90 persen dan mencakup proses welding, painting serta final assembly dalam tahap uji coba.
Baca Juga:Â Viral Curhat Pemilik BYD Sealion 7, Shockbreaker Patah Usai Setahun Pakai
Peralihan menuju produksi lokal memberikan beberapa keuntungan sekaligus. BYD dapat meningkatkan efisiensi distribusi, menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar Indonesia dan secara bertahap memperkuat rantai pasok domestik.
Data impor juga memperlihatkan perubahan tersebut. Setelah mengimpor 64.013 unit mobil secara utuh dari China sepanjang 2025, BYD hanya mencatat impor 358 unit sepanjang Januari-Mei 2026 ketika transisi menuju produksi lokal mulai berlangsung.
Langkah ini menjadi semakin strategis karena pemerintah Indonesia juga mendorong pengembangan industri kendaraan listrik domestik. Presiden Prabowo Subianto bahkan menargetkan produksi massal mobil listrik buatan dalam negeri mulai 2028.




