Ruang kelas dan meja laboratorium kini menjadi arena perjuangan para siswa untuk mengasah keahlian otomasi industri.
Bahkan, mengasah keahlian mekatronika, hingga kimia industri, yang merupakan kebutuhan utama pasar global.
Anda yang mengamati dinamika industri urban pasti memahami bahwa inovasi tidak lahir di ruang rapat.
Melainkan juga di lantai produksi yang dijalankan oleh tangan-tangan terampil.
Dengan integritas dan profesionalisme tinggi, para lulusan ini menjaga mutu produk Indonesia.
Sekaligus memperkuat daya saing bangsa di pasar internasional yang semakin kompetitif.
Menteri Agus menegaskan, tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium, dan tidak ada laboratorium tanpa analis.
Baca juga: Kemenperin Fokus Garap Kompetensi Pekerja, Incar 100 Persen Serapan Lulusan Vokasi Industri
“Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil,” tegas Menperin.
Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi.
“Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting,” imbuhnya.
Tingginya Animo dan Penyerapan Kerja
Dunia industri memberikan pengakuan nyata terhadap kualitas lulusan vokasi Kemenperin.
Buktinya, penyerapan 63 persen tenaga kerja baru hanya dalam waktu singkat pasca kelulusan.
Perusahaan manufaktur bergengsi seperti PT Mayora Indah, PT Astra Daihatsu, dan PT Panasonic kini mengandalkan talenta muda ini untuk menjaga efisiensi serta produktivitas bisnis mereka.




