Baca juga: Kinerja Badak LNG Tembus Target 2025, Pertahankan Operasional Kilang Kelas Dunia
Strategi hilirisasi ini secara langsung meningkatkan nilai tambah produk nasional sekaligus menciptakan sentra-sentra ekonomi baru yang inklusif di wilayah Maluku.
“Gas yang dihasilkan nanti sekitar 60 persen minimal akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen untuk ekspor,” ujar Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Dampak Fiskal dan Transformasi Lapangan Kerja
Proyek Strategis Nasional ini memberikan kontribusi luar biasa bagi keuangan negara.
Sebab, proyeksi penerimaan langsung akan mencapai USD37,8 miliar selama masa konstruksi hingga operasi.
Selain aspek fiskal, proyek ini menyerap tenaga kerja dalam skala masif, yakni sekitar 12.000 pekerja pada masa konstruksi dan hingga 1.000 tenaga ahli saat beroperasi.
Efek berganda (multiplier effect) dari investasi ini menjanjikan peningkatan standar hidup bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan infrastruktur, pendidikan, serta peluang usaha penunjang lainnya.
Baca juga: Rahasia Digital DSLNG: Meleset Satu Digit Saja Taruhannya Jutaan Dolar
Pemerintah dan konsorsium pengelola, yang terdiri dari INPEX, Pertamina, dan Petronas, memastikan bahwa keberhasilan proyek ini menjadi katalisator bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan merata.
“Pupuk akan membangun industri hilirisasi di sini. Kemudian sebagian gas juga akan kita salurkan kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta”.
“Langkah ini sekaligus meningkatkan nilai tambah dan mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” kata Bahlil. (*)




