URBANCITY.CO.ID – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengambil langkah strategis dengan mengusulkan pembentukan kelompok kerja (pokja) lintas kementerian.
Tujuannya jelas, untuk memetakan prioritas pembangunan infrastruktur dasar di Bali.
Anda menyaksikan bagaimana tantangan kompleks menuntut solusi nyata demi menjaga daya saing destinasi kelas dunia ini.
Sedikitnya terdapat tiga tantangan industry pariwisata ke depan; pengelolaan sampah, kepadatan wisatawan (overcrowding), hingga penataan ruang.
Kajian World Bank memperkirakan bahwa kebutuhan investasi untuk sektor energi, air, sanitasi, dan pariwisata di Bali mencapai USD 16,4 hingga 24,7 miliar.
Angka teresebut setara Rp295,2 triliun hingga Rp444,6 triliun.
Baca juga:Â Melampaui Batas Finansial: Mengukur Ketangguhan Industri Pembiayaan di Era Urban 2026
Langkah taktis ini membuka peluang investasi masif bagi para pelaku bisnis,
Terutama mereka yang ingin berpartisipasi dalam transformasi ekonomi regional yang berkelanjutan.
“Melihat tantangan yang ada saat ini, kiranya Bapak (Menko) dapat mengarahkan agar ada pembentukan kelompok kerja untuk mereview ini secara bersama”.
“Mana yang benar-benar kita butuhkan, diprioritaskan, dan dapat segera kita eksekusi,” kata Menpar.
Pengelolaan Sampah dan Penataan Ruang Modern
Kementerian Pariwisata mendorong remediasi sampah laut secara masif dan optimalisasi TPA Suwung.
Selain itu, percepatan penyediaan TPS 3R guna menjawab isu lingkungan yang krusial bagi kenyamanan wisatawan urban.
Baca juga:Â Dinamika Finansial Urban: Membaca Arah Pembiayaan Kendaraan dan Masa Depan Elektrifikasi 2026




