Bagi pemburu produk lokal, ada creative market yang memamerkan 35 kekayaan intelektual (IP) lokal bersanding dengan aroma dari 35 stan kuliner nusantara.
Baca juga: Bank Jakarta Siapkan 20 Bus Mudik Gratis 2026, Perkuat Sinergi BUMD DKI Layani Warga
Bagi Irene, ekosistem yang cair seperti inilah yang dibutuhkan Jakarta untuk tetap relevan di kancah internasional.
“Ekonomi kreatif selalu membuka ruang bagi warga kota untuk tetap terhubung dengan aksi-aksi kolaborasi nyata. Ketika kreativitas dipadukan dengan budaya, teknologi, dan jejaring global, maka Kota Jakarta akan memiliki kapasitas yang lebih kuat untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” tambahkan Irene.
Investasi Manusia, Bukan Cuma Beton
Sesi dialog pembuka JFF 2026 kian berbobot dengan hadirnya Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Di atas panggung, Pramono melempar otokritik terhadap model pembangunan kota yang selama ini kerap terjebak pada urusan fisik dan beton semata.
Menuju status kota global, Jakarta menurutnya harus mulai menggeser fokus pada pemerataan kualitas hidup manusianya.
Baca juga: Jakarta Institute: Warga Harus Beralih ke PAM Jaya, Tinggalkan Air Tanah
“Jakarta akan menjadi kota yang lebih baik ketika seluruh warga kota memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Maka, investasi pada pendidikan, kesehatan, dan ruang tumbuh generasi muda menjadi fondasi utama dalam membangun kota global yang berkeadilan,” tegas Pramono.
Merawat Hubungan dengan Berlin
JFF 2026 juga menjadi panggung diplomatik. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat hubungan kemitraan antara Jakarta dan Berlin yang telah terajut mesra selama lebih dari tiga dekade. Sinergi antarkota (sister city) ini dianggap krusial di tengah memanasnya peta politik dunia.




