Baca Juga: Lewat AKTIF Musik, Kementerian Ekraf Dorong Musisi Jawa Tengah ke Panggung Nasional
Secara konsep, “Sambunyi Kuku” mengupas liku-liku hubungan asmara anak muda dengan latar visual keseharian masyarakat Ternate.
Sebaliknya, “Hikayat Moloku Kie Raha” tampil megah mengawinkan ketukan musik hip-hop modern dengan instrumen etnik tradisional.
Klip video ini merekam jejak sejarah penyatuan empat kerajaan besar Maluku Utara: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.
Pemberdayaan ini mendapat respons hangat dari pelaku industri kreatif lokal lewat serangkaian diskusi komunitas dan lokakarya kebijakan yang digelar di Benteng Orange, Ternate.
Baca Juga: Lampion di Langit Jakarta, Kemen Ekraf: Festival Imlek 2026 Jadi Panggung Akulturasi Ekonomi Kreatif
Gubernur Sherly Tjoanda Kawal Ekosistem Seni Berkelanjutan
Guna memastikan program ini berdampak panjang pada perekonomian daerah, Direktur Musik Kementerian Ekraf, Mohammad Amin, melakukan pertemuan khusus dengan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.
Pemerintah provinsi menyatakan komitmennya untuk menyediakan regulasi yang ramah bagi tumbuh kembang hak cipta karya seni lokal.
“Kolaborasi lintas sektor seperti inilah yang kami wujudkan sehingga tercipta sinergi antara musisi dari daerah, komunitas lokal, dan pegiat subsektor ekraf lain. Bukan hanya soal musik, hal ini menjadi cara untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan,” pungkas Mohammad Amin.
Kementerian Ekraf optimistis, dengan injeksi modal produksi video klip yang berkualitas, musik Maluku Utara tidak hanya akan viral di platform digital, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis kekayaan budaya daerah. (*)





